KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Tantangan Allah Tentang Lalat

Dikutip dari buku Gue Never Die karya Salim A. Fillah, halaman 10-12 dengan sedikit perubahan.

“… Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya… ” (22: 73)

Saya akan meminta bantuan para penyusun buku BIP Nurul Fikri untuk menjelaskan ayat Allâh yang mulia ini. Kalau saja dikumpulkan seluruh profesor Doktor ahli serangga yang masing-masing mengambil spesialisasi di bidang ‘lalat’, kemudian diberi dana 100 trilyun dolar dalam waktu 100 tahun, merela tidak akan sanggup untuk membuatnya -meskipun mengerahkan bantuan para jin dari Laut Selatan. Kemudian Allâh melanjutkan:

“… Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”(22: 73)

Apabila seekor lalat hinggap ke cangkir teh milik salah seorang profesor Doktor tadi dan menghisap isinya, ketika para profesor doktor tadi lagi pusing-pusingnya memikirkan bagaimana cara mencipta lalat, maka para profesor doktor itu tidak dapat mengambil kembali teh yang dihisap lalat tadi sama sekali. Mengapa? Karena paling tidak ada 3 hambatan teknologi yang harus diatasi oleh para profesor doktor untuk dapat merebut kembali teh yang diambil lalat, yaitu:

  1. Harus memiliki alat sergap yang canggih yang dapat menangkap lalat itu dalam keadaan hidup-hidup. Secara teoritis, alat yang mampu digunakan adalah spider pistol. Senjata ini berisi cairan kimia tertentu, bila ditembakkan akan membentuk semacam sarang laba-laba. Jika lalat terjerat, akan mengawang di udara, tidak jatuh tidak juga terbang dan tetap hidup. Inipun menimbulkan masalah baru, yaitu dengan cara apa partikel kimia tadi dikendalikan agar bergerak ke segala arah dan melawan gaya gravitasi bumi? Bagaimana mengatur kecepatannya agar bergerak dan mengembang dalam jarak dan ukuran yang dikehendaki? Dan banyak masalah lagi sebelum spider pistol terwujud.
  2. Harus memiliki alat transfer yang akurat, yang dapat memindahkan kembali teh yang dihisap lewat sungut lalat, hingga tetes terkecil.
    Secara sederhana, alat tersebut mungkin berupa pipet yang harus memiliki syarat: 

    • pipet itu harus lebih kecil dari sungut lalat itu.
    • pipet harus lebih elastis dari sungut lalat itu. Bila tidak, maka sungut lalat itu akan hancur dan usaha mengambil kembali teh akan sia-sia.

    Dapatkah manusia mengatasi hambatan teknologi ini? Dari bahan apa pipet itu dibuat? Bagaimana cara membuatnya? Dan juga banyak pertanyaan lainnya. Jikalau kita menganggap sekian ribu tahun yang akan datang, teknologi itu bisa dibuat, namun belum bisa memecahkan masalah terakhir.

  3. Manusia harus mampu bekerja dalam time limit (batasan waktu) yang sangat ketat. Mulai dari menembak lalat hingga mengambil teh itu harus dilakukan hanya dalam hitungan sedikit detik saja. Hal ini karena lalat suatu pencernaan yang unik. Hampir-hampir dia tidak pernah menyimpan makanan atau minumannya dalam lambung. Begitu makanan masuk ke dalam tubuhnya maka langsung didistribusikan ke seluruh tubuhnya sebagai sumber energi terutama untuk menggetarkan sayapnya hingga frekuensi yang sangat tinggi. Bayangkan jika manusia gagal mengerjakannya dalam hitungan detik. Tentunya ketika pipet dipasang dan difungsikan, bukannya teh yang ingin kita kembalikan yang tersedot karena sudah tidak ada di lambung malah usus-ususnya yang tersedot :mrgreen: Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.

Filed under: Hikmah, Renungan

Sahabat yang berkunjung:

  • 136,080 pecinta tahajud

Kelompok Ilmu

Dzikrullah

Asmaul Husna

KITa

kita-call-indonesia.gif

Daftar TC yuk…

daftar-tc.gif

Komunitas KITa

klik disini untuk gabung ke tahajud_call
Klik gambar untuk gabung ke milis TC

Gabung juga di forum KITa Call Indonesia dengan mengklik Forum