KITa Call Indonesia

Seruan di Ufuk Fajar

Munas KITa Call Indonesia

Assalaamu’alaikum wr wb, sahabat Insan Tahajud.

Alhamdulillah, hari sabtu 26 Desember 2009 hingga ahad 27 Desember 2009 telah diadakan Musyawarah Nasional Keluarga Insan Tahajud Call (Munas KITa Call Indonesia) ke-2. Dalam Musyawarah Nasional ini berisi agenda Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Pusat periode 1428-1430H. Presidium dipimpim oleh Pak Ayi Nugraha dari Bandung Raya dan Presidium II adalah Mumakisoh, SE, Presidium III adalah Ahmad Fauzi.

Munas KITa Call Indonesia terbagi ke dalam 4 sidang pleno. Sidang pleno 1 Laporan Pertanggungjawaban, Sidang Pleno kedua pembahasan AD-ART, Sidang Pleno ketiga membahas Standar Mekanisme Organisasi dan sidang Pleno keempat pemilihan Ketua Umum Baru periode 1430-1432 H.

Adapun Ketua Umum terpilih adalah Kang Agus Al-Muhajir yang terpilih untuk kedua kalinya.

Semoga kepengurusan berikutnya lebih baik lagi dari kepengurusan sebelumnya. Dan yang memegang amanah sebagai pengurus pusat dapat memberikan yang terbaik.

Mohon dukungan dan doanya bagi perkembangan dakwah kita di KITa Call Indonesia ini.

Demikian pemberitahuan ini, semoga grup ini dapat menjadi wadah yang efektif untuk dakwah KITa.

Wassalaamu’alaikum wr wb.
KITa Call Indonesia Pusat

Filed under: Agenda KITA, KITa Call, Kabar KITA

‘Ibadurrahman

Betapa lengkap al-quran memberikan petunjuk kepada kita. Salah satunya, Allah memberitakan sifat-sifat Hamba Allah, ‘Ibadurrahman dengan sangat indah dalam QS. Al-Furqan Ayat 63-77. Dan salah satu sifatnya adalah, hamba yang selalu mendirikan shalat malam.

63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
64. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka
65. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.”
66. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
68. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
69. (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
70. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
71. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
72. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
73. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
74. Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
75. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,
76. mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
77. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).”

Dalam ayat 63 hingga ayat 77 QS. Al-Furqan di atas, jelaslah bahwa seorang ‘ibadurrahman memiliki sifat sebagai berikut:

  1. orang yang rendah hati lagi senang membalas dengan sesuatu yang baik atau dengan sesuatu yang lebih baik.
  2. orang yang bertahajud melakukan qiyamullail.
  3. orang yang takut akan murka Allah dan takut dimasukkan ke dalam neraka.
  4. Orang yang hemat, tidak kikir tapi juga tidak boros. Orang yang manajemen keuangannya bagus.
  5. Orang yang tauhidnya lurus, tidak membunuh yang diharamkan Allah dan tidak berzina [menjaga diri] karena azab Allah sudah disiapkan. Kecuali mereka bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh.
  6. tidak memberikan persaksian palsu, dan bila bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka tinggalkan dengan menjaga kehormatan dirinya.
  7. Menaati ayat-ayat Allah.
  8. Orang yang membina keluarganya menuju Allah karena mereka sadar bahwa pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Ayat ini bila dibaca dari maknanya, memohon menjadi imam bagi orang bertakwa, maka secara implisit meminta agar diri lebih baik hingga layak menjadi imam bertakwa. Kemudian membina keluarganya menjadi keluarga yang qurrata a’yun, kebaikannya terasa dan terlihat.

Maka balasan Allah terhadap ‘ibadurrahman itu adalah bahwa ada surga yang menanti kehadiran ‘ibadurrahman.

Wallahu a’lam.

 

Filed under: Ibadah, Kenapa Bertahajud?, Plus

Pengorbanan Sejati

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) : ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil : “sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (Qs. Al-Maa’idah [5] : 27)

Alhamdulillah, KITa sudah memasuki bulan Dzulhijah. Dzulhijah merupakan bulan yang sangat istimewa bagi kaum muslim setelah bulan Ramadhan. Pada tiap bulan Dzulhijah, ada tiga bentuk ibadah yang penting bagi umat Islam, yaitu ibadah haji, idul adha dan kurban. 

Kurban adalah suatu amalan yang disyari’atkan Islam pada tahun kedua hijriyah berdasarkan dalil Al Quran, hadits dan Ijma’. Kurban berasal dari bahasa Arab yang bermakna qurbah atau mendekatkan diri kepada Allah. Al Quran mensyariatkannya melalui surat Al Kautsar ayat 1 – 2 “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” 

Berkaitan dengan kurban, Anda pasti sudah sering mendengar dan mengenal ceritanya. Jika kita perhatikan dari kisah Nabi Ibrahim as, begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh beliau dan keluarganya. Setelah puluhan tahun menunggu untuk memperoleh seorang anak, ternyata Allah memerintahkan untuk mengirim istri beserta anaknya yang masih bayi ke daerah gersang dan sepi tak berpenghuni. Namun, beliau beserta keluarganya rela menjalankan perintah Allah tersebut. Pengorbanan beliau beserta keluarganya bukan itu saja, saat anak Nabi Ibrahim as, yaitu Nabi Ismail as menginjak usia remaja, datang lagi perintah Allah untuk menyembelih anaknya. 

Dibalik perintah Allah untuk berkurban, ada banyak pelajaran berharga untuk KITa renungkan. Konsep pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap anaknya mengajarkan kepada KITa tentang ketakwaan, kepatuhan, kepasrahan dan keikhlasan seorang hamba kepada Sang Pencipta.  Apapun perintah Allah, meskipun terasa sangat berat dan perlu pengorbanan yang sangat besar, tetapi Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah tersebut. Ini dibuktikan dengan kesediaan untuk mengorbankan apa yang dimilikinya, termasuk yang paling dicintainya sekalipun, rela dikorbankan hanya demi mematuhi perintah Allah. 

Inilah pengorbanan sejati. Pengorbanan yang mengisyarakan suatu bentuk pemberian secara total, sekalipun nyawa yang harus dikorbankan, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap anaknya, telah mengilhami para kekasih Allah untuk mengorbankan dan meninggalkan kecintaannya, bahkan dirinya sendiri terhadap dunia hanya demi untuk meraih cinta dan ridloNya. 

Pengorbanan sejati telah melahirkan tokoh-tokoh dan pahlawan-pahlawan besar yang dikenang sepanjang sejarah. Rasulullah SAW beserta para sahabatnya merupakan figur-figur mulia yang dikenang sepanjang sejarah karena pengorbanannya untuk umat. Mereka dikenang karena rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga, waktu, ilmu dan perhatiannya, demi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.

Pengorbanan sejati akan melahirkan sifat kasih sayang terhadap sesama, lingkungan dan bangsa, terutama dengan saudara kita yang kurang mampu. Seorang pekurban sejati rela menyembelih sifat egois, kikir dan tamak pada harta dan tahta, sehingga yang kuat selalu membantu yang lemah dan yang kaya memberi yang miskin. Ia akan memberi kekuatan ketika ada orang yang lemah dan rela berkurban untuk melindungi orang-orang yang teraniaya serta rela mengorbankan apapun untuk membantu orang lain. Bahkan, dalam rangka mendekatkan dirinya pada Allah, ia juga rela menyembelih kecintaannya terhadap harta, kedudukan dan apapun yang dimiliki dan dicintainya. 

Jika spirit untuk senantiasa peduli, saling menyayangi, saling menyantuni, saling memberi, saling berempati, peka terhadap penderitaan orang lain, dan semangat berbagi demi meringankan beban atau membahagiakan orang lain senantiasa ada dalam diri, maka itulah seorang pekurban sejati. Bagaimana dengan Anda?

Nah, tunggu apa lagi? Yuuk, KITa korbankan pikiran, harta, jiwa, tenaga, waktu, ilmu, profesi dan jabatan KITa untuk mewujudkan kesejahteraan dan kehidupan yang membahagiakan umat. Insya Allah, apapun yang KITa kurbankan pasti akan Allah ganti dengan balasan terbaik. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya” (Qs. As-Saba : 39).

Filed under: Hikmah, Ibadah, Plus, Renungan

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Dari Aisyah r.a Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, yang lebih dicintai Allah selain daripada menyembelih haiwan qurban. Sesungguhnya haiwan qurban itu pada hari kiamat kelak akan datang berserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu.” (Riwayat al-Tarmuzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Filed under: Hikmah, Ibadah

12 Barisan di Akhirat

Suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: “Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: “Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.” (QS An-Naba:18)”

Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: “Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.” Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut….. Read the rest of this entry »

Filed under: Hikmah, Renungan

Sahabat yang berkunjung:

  • 140,700 pecinta tahajud

Kelompok Ilmu

Dzikrullah

Asmaul Husna

KITa

kita-call-indonesia.gif

Daftar TC yuk…

daftar-tc.gif

Komunitas KITa

klik disini untuk gabung ke tahajud_call
Klik gambar untuk gabung ke milis TC

Gabung juga di forum KITa Call Indonesia dengan mengklik Forum