BERHENTI MENYERAH


 

Penulis: Sari Amelia

Pagi ini saya tertegun memandang sebuah amplop yang saya genggam. Di sudut amplop itu tertulis, “Untuk Ichee. Semangat ya, Dek!” Di bawah tulisan itu tertulis, Bunda Fatih. Saya heran, kapan amplop ini dimasukkan ke tas saya?

Tes tes. Tak terasa air mata saya jatuh. Teringat kejadian beberapa hari lalu. Ketika saya dikagetkan oleh kehadiran seseorang sewaktu memasuki kamar. Orang tersebut biasa saya sebut Mbae Terbaik di Dunia. Seorang kakak yang saya kenal empat tahun lalu di kost-an pertama di Bandung. Saya malu, sebagai adik, saya-lah yang seharusnya mengunjungi Mbae duluan.

Mbae hanyalah jalan dari Allah untuk mengabulkan permintaan saya. Beberapa minggu terakhir, saya sering memohon, “Allah mudahkan urusan hamba dan berikan hamba kejernihan berpikir serta jauhkan hamba dari kemalasan, sehingga tugas akhir hamba bisa selesai tanggal 10 Agustus ini ya Rabb. Agar hamba bisa membahagiakan orang tua dengan melihat anaknya diwisuda.”

Sebenarnya minggu ini adalah minggu terberat buat saya. Sebentar lagi, tugas akhir tersebut harus dikumpulkan sementara software yang saya buat masih error di mana-mana, belum lagi ada program yang tak ter-save dengan baik sewaktu di-close. Saya merasa tertekan. Terlebih seorang teman yang selama ini saya andalkan untuk membantu uring-uringan karena sebuah kesalahan yang telah saya lakukan. Huff. Saya hanya bisa menangis. Harapan lulus Oktober, buyar. Saya memutuskan untuk menyerah. Saya pun jadi malas-malasan mengerjakan tugas akhir. Padahal saya sudah berjanji pada orang tua dan beberapa teman kalau saya akan lulus Oktober ini. Saya malu.
Alhamdulillah, Allah memberi jalan. Setidaknya, menangis dan mengadu kepada Allah terutama di sepertiga malam membuat beban saya perlahan berkurang. Perlahan hati saya menjadi plong. Saya pasrah. Saya hanya bisa bertaubat karena telah berharap pada makhluk-Nya. Padahal tiada daya dan upaya melainkan Dia semata. Allah-lah penggenggam diri kita.

Allahu Akbar. Allah menggerakkan diri saya membaca sebuah postingan yang pernah saya tulis dulu. Postingan tentang sumber motivasi hakiki. Di postingan itu juga terdapat beberapa comment dari sahabat-sahabat yang merasa termotivasi membaca postingan tersebut. Sekali lagi, saya malu. Malu pada diri sendiri. Saya-lah yang menulis tulisan itu, tapi kenapa justru orang lain termotivasi sementara saya tidak?

Allahu Akbar. Maha Suci Allah. Allah membuka pikiran saya. Saya menyusun kembali rencana apa saja yang bisa saya lakukan. Saya merefleksi diri, kenapa saya belum berhasil? Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Sejauh mana usaha saya selama ini?

Alhamdulillah, Allah lagi-lagi mengabulkan do’a saya dengan memberikan saya berbagai kemudahan. Hubungan dengan teman yang awalnya uring-uringan, menjadi baik. Bahkan Allah memudahkan urusan saya dengan teman lain yang siap membantu memperbaiki softwre yang saya buat. Tak hanya itu, Allah juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang memacu saya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut. Allah memompa saya dengan motivasi lain. Bayangan berkumpul kembali dengan orang tua setelah di wisuda, proyek dosen ke Bali plus bungee jumping, dan berbagai motivasi lain. Namun yang lebih utama dari itu semua, mensyukuri nikmat ilmu yang telah diberikan oleh Allah.

Dan nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang akan kamu dustakan?

Ya, Allah memang belum mengabulkan keinginan agar tugas akhir saya beres hari ini. Lebih dari itu Allah memberikan saya orang-orang yang selalu memotivasi sehingga saya bisa bangkit kembali. Pelajaran berharga yang tak akan saya dapatkan di training motivasi manapun.

Allah, betapa luas karunia-Mu. Engkau tak pernah berhenti memberikan nikmat-Mu di saat diri ini lengah. Ya ‘Alim, Ya Rasyid, cukuplah Engkau sebagai penolongku.

  1. Ya, betul sekali T.Ichee. Yang paling utama bagi kita adalah mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah. Banyak hal yang sering kita lupakan dan kita syukuri. Betapa kita sering lupa untuk bersyukur bahwa kita masih bisa menggerakkan tangan, mengedipkan mata, bernafas, dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan dari Allah disadari ataupun tidak yang sudah di anggap “biasa”. Mari kita beristigfar dan memulai segala sesuatu dengan bismillah dan alhamdulillah.
    Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, kita harus selalu berhusnuzon kepada-Nya! Mari kita belajar memperbaiki diri mulai dari saat ini.
    Semoga Allah mengabulkan apa yang menjadi cita-cita T.Ich, ingat dimana ada kesulitan, disitu pasti ada kemudahan.
    Terus berdoa dan GAMBATTE KUDASAI!!!!

    • Esa
    • Agustus 11th, 2007

    Perasaan tertekan seperti itu memang wajar dialami semua orang, bahkan seperti yang teteh alami, sa juga tengah mengalaminya, malah kemaren2 sempet lalai di 1/3 terakhir malam. Astaghfirullloh. Tapi melebihi itu semua ALLAH kirimkan berbagai bentuk bantuannya pada kita. Sa juga lagi nyusun TA, mohon doanya ya semua, moga bisa beres minggu k-3 September.
    Iya, kadang kita harus membuka postingan kita yang lalu, terkadang semangat dan motivasi itu akan muncul lagi, jika tidak, diamlah sejenak dan jangan memikirkan apapun, lalu beristighfarlah. Maka kemudahan demi kemudahan akan menghampiri kehidupan kita.

  2. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam keadaan susah…
    Allah selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya
    Sy selalu berdoa: “Ya Allah jangan pernah tinggalkan sy dalam keadaan apapun…”
    Yakinlah, Allah itu selalu bersama kita…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: