Zakat dan kepuasan diri


oleh: agus al muhajir

Beberapa hari ini saya tersesat ke sebuah blog yang membahas tentang kristenisasi dan penyikapan orang Islam. Saya tergelitik untuk memberikan komentar karena postingan yang begitu menarik yang intinya mengkritik ( tepatnya mengingatkan ) umat Islam agar tidak reaktif dan melakukan Introspeksi terhadap sikap umat islam secara umum yang hanya bisa berkomentar dan terkadang menghujat kristenisasi tanpa bisa berbuat apa-apa.Saya setuju dengan sang pemilik blog, bahwa kita umat Islam terkadang terjebak pada sikap negatif dan tidak solutif terhadap persoalan ini. .

Inti dari masalah ini semua ( kristenisasi )  sejatinya adalah masalah kepedulian kita kepada sesama saudara seiman kita. Mereka saudara kita bisa jadi terjebak pada pemurtadan ini karena mereka sungguh-sungguh tidak berdaya . Saat mereka lapar dan tersudut oleh berbagai kebutuhan, saat kita mencibir dengan sinis dan berkata : ” kerja dong , jangan malas …!!!”, saat itulah datang serombongan orang dengan sekardus mie, selembar dua lembar pakaian dan sekaleng dua kaleng susu untuk bayi mereka dan akhirnya ..tergadailah akidah mereka…lalu, kitapun marah dan berkata : ” kalian telah mendurhakai Allah…!!!”.

Berbicara masalah kepedulian, hari-hari ini adalah saat yang tepat untuk kita menelaah lebih serius lagi hal ini karena sebentar lagi kita akan masuk pada bulan latihan emphaty kita yaitu bulan Ramadhan dimana pada  puncaknya setiap muslim akhirnya  diingatkan untuk menunaikan zakat fitrah dan kita tahu pula betapa berbondong-bondongnya umat islam untuk menunaikan kewajiban ini . Dan sekarang mari kita tanya motivasi kita untuk membayar zakat fithrah ini. Sebagian dari kita akan menjawab : ” saya menunaikan zakat fithrah ini ya..semoga ini bisa menambal ibadah puasa saya yang belum sempurna biar ibadah saya diterima Allah..” nah.. jawaban ini tentu tidak salah karena memang ini adalah salah satu fungsi zakat fithrah namun mari kita renungi, cukupkah kita berhenti dengan jawaban ini ? bukankah  akhirnya kita terjebak pada hanya ranah ibadah pribadi saja ?

Kalau kita merenungi fungsi zakat, sesungguhnya kita akan melihat dimensi sosial yang begitu luas dan kental dari ibadah kita yang satu ini.Dengan zakat kita bisa memberdayakan umat ini dengan seoptimal mungkin. Dengan zakat kita bisa membebaskan umat dari kefakiran yang otomatis akan menjauhkan mereka dari kekafiran. Pertanyaannya sekarang , cukupkah kita melakukan amal ini setahun sekali ?.Bukankah orang miskin itu harus makan setiap hari ? harus menyekolahkan anaknya biar pintar ? harus menjaga kesehatannya agar bisa produktif dan berdaya guna ?

Sudah saatnya kita kembali bertanya pada diri kita, benarkah kita sudah menemukan dimensi sosial dari zakat, infaq dan sedekah  yang kita tunaikan? atau lagi-lagi kita hanya penikmat sensasi kepuasan diri ?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: