Doa Hamba


Ya ikhwati…

Tengoklah doa Rasulullah saw. saat beliau bangun di malam-malam beliau untuk melaksanakan shalat malam…dikala sholat lima waktu belum diwajibkan, di kala dakwah ini mulai di rintis,di kala Rasulullah harus memulainya sendiri dan dalam keadaan sepi, di kala tiran thogut sangat merajalela dan nama Allah menjadi biasa, di kala tiada-nya teman dan keluarga kecuali hanya Allah semata, di kala manusia-manusia lainnya sedang terlelap dalam tidurnya :

Ya Allah, Bagimu Segala PujianEngkaulah Yang Menegakkan Langit Dan Bumi

Dan Apa-Apa Yang Berada Di Dalamnya

Ya Allah, Bagimu Segala Pujian

Kepunyaanmu Seluruh Langit Dan Bumi

Dan Apa-Apa Yang Berada Di Dalamnya

Ya Allah, Bagimu Segala Pujian

Engkaulah Cahaya Langit Dan Bumi

Dan Apa-Apa Yang Berada Di Dalamnya

Hanya Bagimu Segala Puji

Engkaulah Sang Maha Haq

Janjimu Itu Maha Benar

Pertemuan Denganmu Adalah Benar

Firmanmu Adalah Benar

Surga Itu Benar, Neraka Itu Benar

Para Nabi Itu Adalah Benar

Muhammad Saw. Adalah Benar

Dan Hari Kiamat Adalah Benar

Ya Allah, Untukmu Aku Bersimpuh

Hanya Kepadamu Aku Beriman

Hanya Kepadamu Aku Bertawakkal

Ya Allah

Kepadamu Aku Kembali

Karenamu Aku Berjuang Dan

Kepadamu Pula Aku Berhakim

Ampunilah Dosa-Dosaku Yang Terdahulu Dan Kemudian

Ampunilah Aku Dari Dosa Yang Aku Sembunyikan Dan Yang Aku Tampakkan

Dan Dari Semua Dosa- Dosaku Yang Engkau Lebih

Mengetahui Dari Diriku

Engkaulah Yang Menyegerakan Dan Engkaulah Yang Mengakhirkan

Tiada Tuhan Melainkan Engkau

Dan Tiada Daya Dan Kekuatan, Melainkan Karena Engkau

Ya Allah…

(HR Bukhori) — doa Rasulullah di saat bangun untuk sholat tahajjud

Ya ikhwati…

Siapa yang akan kita tuju kalau badan dan fikiran ini sudah terasa suntuk dengan semua permasalahan? Permasalahan kuliah? Permasalahan dakwah? Permasalahan finansial? Permasalahan personal? Atau masalah-masalah yang lainnya? Padahal Rasulullah-lah yang paling banyak mendapat cobaan dan ujian permasalahan-permasalahan. Semua permasalahan hidup sudah harus beliau tanggung mulai beliau belum dilahirkan di dunia ini, ditinggal keluarga, harus hidup seorang diri di umur 6 tahun tanpa kedua orang tua, harus mencari nafkah untuk hidup sendiri, dan ujian-ujian lainnya yang sungguh takkan pernah sanggup jika ujian itu harus diujikan kepada kita.

Lalu siapakah yang kita tuju, sementara  Rasulullah mengajarkan dan mentauladankan kepada kita dengan senantiasa bangun di malam hari dan mendirikan sholat,lalu menangis sejadi-jadinya, sampai membasahi janggut beliau, sebagai bentuk penghambaan diri dan pengakuan atas keagungan Allah swt. serta pengakuan atas segala kelemahan diri.

Ya ikhwati…

Apa yang menjadi bekal dakwah kita sehari-hari?

Sementara Rasulullah senantiasa mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik bekal dakwah adalah kedekatan kita dengan Allah swt. dan bahwa bekal yang utama adalah ruhiyah yang terjaga dan senantiasa terhubung dengan Allah swt.

Maka malam hari adalah saat bagi Rasulullah untuk mengisi ruhiyah dan menjaga kestabilan jiwa, yang memang menjadi kebutuhan bagi seorang da’i. Dengan apa? Dengan bangun di malam hari, mengambil wudlu dan melaksanakan sholat malam, dengan cara itulah Rasulullah menjaga kondisi ruhiyah beliau dengan tantangan dakwah yang begitu besar, saat sholat lima waktu belum diwajibkan, saat ibadah lain belum disyariatkan, saat kebutuhan jiwa menjadi tidak terbendung lagi. Sholat malam menjadi pegangan Rasulullah saw. di malam-malam beliau sampai-sampai tangis beliau mengucur deras dan membasahi janggut beliau.

Ya ikhwati…

Siapa yang kita cari saat diri ini merasa sendiri dan sepi? Kala semua menjadi begitu naif dan mementingkan diri sendiri. Saat kawan seperjuangan seolah meninggalkan kita sendiri, dipojok situasi yang teramat tidak menyenangkan. Saat keadaan tidak berpihak pada diri kita dan tanpa pengadilan kita menjadi tertuduh atas semua hal? Siapa yang kita cari?

Kepada siapa kita akan mencurahkan semua isi hati ini? Kepada siapa kita akan mengadukan semua rindu dan menambatkan semua perasaan ini…atau bahkan juga kepada siapa kita akan melabuhkan semua cinta? Kepada siapa?

Sementara Rasulullah mengajarkan kita untuk berdua-dua di malam hari, saat semua orang sudah terlelap dalam tidur mereka? Untuk apa? Untuk mencurahkan semua isi hati, untuk memadu rindu yang begitu menggebu, untuk menambatkan semua rasa yang menggelora dan juga melabuhkan semua rasa cinta di pesisir tak berujung pemilik cinta sejati dan pengelola hati… Allah swt.Sampai-sampai dalam sholat beliau, tangis menjadi tidak tertahan lagi dan membanjiri wajahdan janggut beliau.Sampai-sampai istrinya, Aisyah, yang sangat beliau cintai –setelah ditinggal semalaman untuk sholat- bangun dan bertanya, kenapa engkau masih saja melakukan sholat sampai seperti itu?

Ya ikhwati…

Dimana kita akan mencari sumber kekuatan saat thogut dan tiran semakin menjadi merajalela di sekitar kita. Saat kita mulai belajar melawan. Kala kita mulai berani mengatakan tidak, sementara di sisi lain nama Allah menjadi jarang disebut atau sering disebut tanpa ruh?

Dimana kita akan mendapatkan energi itu?

Adalah Rasulullah yang malam-malamnya diisi dengan bangun malam dan sholat, karena beliau sadar untuk mendapatkan kekuatan maka kita harus senantiasa terhubung dengan pemilik kekuatan, dengan sang pemilik langit dan bumi, dengan penguasa jagad dan pemilik segala kerajaan. Maka beliau senantiasa bangun dan mendirikan sholat malam, semua itu beliau lakukan sampai-sampai beliau menangis hingga tangisannya itu membasahi janggutnya.

Ya ikhwati…siapa kita?

Apakah kita termasuk orang-orang yang tidur itu?Ataukah kita termasuk orang-orang yang sholat malam itu?Sementara kita membutuhkannya, sementara kita sangat memerlukannya. Untuk bangun di malam hari, mengambil wudlu kemudian memuji keagungan Allah swt. dan juga memanjatkan doa kepadaNya. Lalu kemudian kita mendirikan sholat selama-lamanya, sekhusu’-khusu’nya, dan sebaik-baiknya, sampai-sampai mata ini tak kuasa lagi dan mulai meneteskan airnya,deras…sampai-sampai memenuhi kelopak mata kita, sampai air mata itu membasahi pipi danjanggut-janggut kita, sampai hati ini merasa sejuk dan damai, sampai kita tidak merasa sendiri lagi, biar semua masalah menjadi ringan di mata kita karena kita tahu ada yang jauh lebih agung, sampai semua rasa tersampaikan, sampai semua rindu terpenuhkan, sampai semuacinta tertambatkan…dan mata kita akan terus menangis…menangis untuk kepuasan. Sejadi-jadinya sampai membasahi seluruh wajah kita.

Malang, 11 Februari 2007

source : http://suaidi2007.wordpress.com

  1. ya Robb kami ampunilah dosa-dosa kami dan ikhwan kami yang telah mendahului kami dengan iman. Dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian kepada orang2 mukmin. Ya Robb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

    Makasih atas tulisannya mas…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: