RIYA


A. BAHAYA RIYA
• Membatalkan amal
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak Memberi Petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah 2:264)
• Penyebab murka Allah
• Pembinasa terbesar
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun 107:4-7)
1.B. KLASIFIKASI RIYA
Berat dosa riya tidaklah sama, sebagian pintu riya lebih keras dari sebagian yang lain sesuai perbedaan unsurnya.
Berikut ini adalah klasifikasi riya berdasarkan unsur-unsurnya :
Unsur Pertama : Tujuan
Tingkatan riya berdasarkan tujuan dari amal :
1. Tidak ada tujuan mencari pahala (ini yang paling berat)
Contoh : Jika ada yang melihat maka ia shalat, tetapi jika tidak ada yang melihat maka ia tidak shalat
2. Tujuan mencari pahala sangat lemah
Tujuan riya masih sangat dominan
3. Tujuan mencari pahala dan riya berimbang
4. Penglihatan orang menjadi penguat dan pendorong mengerjakan amal. Jika tidak ada orang yang melihat maka ia melaksanakan suatu amalan dengan segan (walaupun ia tetap melaksanakannya), tetapi jika ada orang yang melihatnya maka bertambah besarlah motivasi dirinya untuk melaksanakan amal tersebut.
Unsur Kedua : Bagian
Yaitu pada bagian pokok-pokok ibadah manakah riya itu dilakukan
1. Riya dalam dasar iman
Misalnya tidak meyakini syari’at hukum Islam, melaksanakan bid’ah, dll
2. Riya dalam pokok-pokok ibadah
Misalnya riya dalam shalat, puasa Ramadhan, shalat Jum’at, dll
3. Riya dengan amalan-amalan sunnah yang jika ditinggalkan tidak dikatakan maksiat.
Misalnya menghadiri shalat jama’ah, tahajjud, puasa Senin dan Kamis untuk tujuan riya.
Ia malas dikesunyian karena lesu keinginan akan pahala. Ia lebih mengutamakan lezatnya kemalasan daripada pahala. Ia mencari pujian atau takut celaan; tetapi jika berada di tempat sepi ia tidak menambah amalan sunnah. (Riya ini juga sangat berat)
1. Riya dalam hal yang bisa mengurangi nilai ibadah jika ditinggalkan
(memperbanyak sujud & ruku’, menahan menggunjing saat shaum)
Hal ini berarti meremehkan Allah
2. Riya dalam hal yang bisa menyempurnakan ibadahnya
(memanjangkan berdiri, memilih yang baik dalam sedekah, banyak diam)
3. Riya dengan tambahan lain diluar sunnah
(menghadiri jamaah sebelum orang lain, dapat shaf pertama)
Unsur Ketiga : Tujuan riya
1. Untuk bisa maksiat
Misalnya :
– menghadiri majelis untuk maksiat mata
– menampakkan keshalihan agar diamanati sesuatu yang akan ia pergunakan (diberi jabatan tertentu karena dianggap orang shalih)
– sesudah zhalim lalu menampakkan ketakwaan agar tidak dibilang zhalim (mencuri lalu menampakkan sedeqah)
2. Untuk mendapatkan bagian dunia yang dibolehkan
Misalnya menampakkan ilmu agar mendapatkan wanita atau harta
3. Agar dipandang orang khusus
– tertawa (lalu karena takut tidak dihormati) lalu istighfar, menampakkan penyesalan, padahal jika sepi tidak akan melakukannya
– ikut-ikutan yang beribadah tapi jika sepi tidak
Dari contoh-contoh medan riya tersebut diatas marilah kita introspeksi diri apakah ada dalam diri kita perbuatan-perbuatan seperti itu ?
Orang ikhlas tidak akan memperdulikan pandangan makhluq.
Suatu contoh keikhlasan adalah jika seseorang tidak puasa – dan Allah mengetahui bahwa dirinya tidak berpuasa – maka ia tidak ingin dianggap dengan anggapan lain (disangka berpuasa)
1.C. OBAT RIYA
1. Mujahadah.
Setiap merasakan adanya kehadiran riya dalam diri maka segera meluruskan niat. Lawanlah motivasi-motivasi untuk mendapat pandangan makhluk. Memang akan terasa berat awalnya, tetapi akan ringan akhirnya
2. Mencabut akar-akar riya :
 Menolak kelezatan sanjungan
Segera kembalikan segala sanjungan kepada Allah.
Jangan tertipu dengan sanjungan. Bisa jadi sebenarnya kita lebih buruk dari isi sanjungan tersebut. Jangan sampai rasa ujub menghinggap dalam diri kita
 Menghindar dari sakitnya celaan
Jangan terpengaruh dengan celaan sehingga berambisi untuk membuktikan sesuatu kepada makhluk.
3. Ketahui racun riya. Ketahui ilmu akhirat
a. Pahami tujuan hidup
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat:56)
b. Mengetahui nilai dunia dibandingkan akhirat
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di Sisi Allah-lah Tempat Kembali yang baik (Surga)”. (QS. Ali Imran 3:14)
c. Memahami bahwa kematian itu pasti dan menjadikannya pelajaran
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran 3:185)
4. Biasakan ibadah secara sembunyi-sembunyi
5. Menolak hal yang timbul dari riya’ pada saat melaksanakan ibadah.Maraji’
Sa’id Hawwa, “Mensucikan Jiwa”, Hlm. 186 – 195, 318 – 320

arbz_1990@yahoo.co.id ( Rizq Febriansyah )

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: