Review-Talk Show Bersama Ust. Dedeh Saudah dan Ust. Nashirul Haqq


Hari beranjak siang, usai acara MQ pagi, peserta pesantren keluarga diberi kesempatan untuk bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan olahraga. Di luar hujan, hal itu menyebabkan kegiatan ini diadakan indoor di Daarul Hajj, tidak seperti pesantren keluarga sebelumnya yang diadakan di alam terbuka, di depan lab komputer UPI. Kegiatan ini dimulai pada pukul 6.30 hingga menjelang pukul 7.30.

Kegiatan dilanjutkan dengan acara bebas, disini para peserta pesantren keluarga diberi kesempatan untuk beristirahat, MCK, sarapan pagi dan sebagainya, tergantung peserta (namanya juga acara bebas😀 ). Pukul 8.30 peserta diminta telah berkumpul kembali di mesjid Daarut Tauhid guna mengikuti acara selanjutnya yakni tahsin yang ternyata Ustadznya semula diinformasikan akan datang terlambat, namun setelah pukul 9.30an ustadznya belum juga tiba. Panitia akhirnya mangadakan sharing antarpeserta pesantren keluarga. Banyak hikmah yang bisa diambil dalam even ini. Semoga ukhuwwah kita bisa semakin kuat. Amin.

Usai sharing ini, diteruskan pada kegiatan selanjutnya yakni tak show bersama Ust. Dedeh Saudah, seorang ibu yang –dengan izin ALLAH berhasil mendidik anak-anaknya padahal beliau adalah single parent. Talk show juga ditemani oleh Ust. Nashirul Haqq dan dimoderatori oleh Kang Sigit Kurnia, penyiar MQ FM. Dalam talk show yang berlangsung hingga Zhuhr ini mengusung tema “Menanamkan dan  Menjaga Aqidah Anak-anak dan Keluarga”. Sebagai bahasan pembuka adalah sharing Bu Dedeh mengenai pendidikan aqidah yang diterapkan sang suami kepada dirinya dan anak-anaknya. Namun, ketika anak-anak beliau masih kecil, sang suami dijemput oleh ALLAH. Dari sini, beliau tetap belajar mengenai ilmu agama terutama kepada mertua beliau, yang kemudian diterapkan kepada anak-anaknya. Dalam proses pembelajaran ini, baik Bu Dedeh maupun anak-anaknya jadi sama-sama belajar. Meski single parent, Bu Dedeh tidak mau menerima bantuan dari orang lain karena kasihan. Ia juga tidak ingin anak-anaknya merasa yatim yang lemah dan perlu mendapat belas kasihan dari orang lain. Beliau berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga bangku kuliah. Namun, beliau berhasil menerapkan pendidikan mandiri kepada anak-anaknya. Mereka sukses menjadi “orang” sekaligus menjadi da’i. meski mereka beraktifitas di lingkungan yang bisa dibilang asing terhadap dakwah itu sendiri. Namun, kesan berakhir diukir, mereka menorah tinta emas perjuangan dakwah. Banyak orang berdecak kagum. Merekalah sufi modern

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: