Isra’ Mi’raj dan Kemerdekaan [2]


Bahasan ini mengenai kata berikutnya dalam QS 17:1, melanjutkan bahasan sebelumnya.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Isra’ Mi’raj dilakukan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى. Ada dua makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut, yakni yang tersirat dan tersurat. Makna tersiratnya tentu mengenai tempat terjadinya Isra’ Mi’raj itu, yakni Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Lalu kenapa ALLAH memilih kedua tempat itu? Jawabannya ada dalam Hadits Rasulullaah saw [‘afwan, sy lupa nyatet sanad dan perawinya] yang artinya, “Sebaik-baik tempat ziarah adalah Masjidil Haraam, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha”. “Barangsiapa yang shalat 1 rakaat di Mesjidil Haram, pahalanya sesuai dengan 100.000 rakaat shalat di mesjid lain. Barangsiapa yang shalat 1 rakaat di Mesjid Nabawi, pahalanya sesuai dengan 1.000 rakaat shalat di mesjid lain. Barangsiapa yang shalat 1 rakaat di Mesjidil Aqsha, pahalanya sesuai dengan 100 rakaat shalat di mesjid lain.”

Sedangkan makna tersiratnya adalah, bahwa Mesjidil Haram melambangkan kesucian dan Mesjidil Aqsha melambangkan kebebasan, kemerdekaan. Jadi makna Isra’ Mi’raj secara tersirat adalah menggapai kesucian untuk kemerdekaan diri.

Suci dari apa? Sucikan dari TBC, Takhayul, Bid’ah dan Churafat.

Takhayyul: Berkhayal, bermimpi membuat hati kotor.
Bid’ah: Mengada-ada sesuatu yang tidak dicontohkan Nabi. Lihat QS. Al-Isra [17] ayat 36
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Churafat: Suatu bentuk mitos yang diyakini kebenarannya.

Mi’raj

Mi’raj di Sidratul Muntaha. Mi’raj merupakan hadiah ALLAH untuk Rasulullah saw. Kenapa beliau diberi hadiah? Untuk menghibur beliau pada Tahu Kesedihan (Amul Huzni) atas wafatnya istri kesayangan Rasulullaah saw, Khadijah dan pamannya, Abu Thalib yang wafat masih dalam keadaan kafir.

Jika Rasulullaah langsung dihibur oleh ALLAH dengan Mi’raj, lalu bagaimana dengan kita? Ternyata Rasulullah bersabda seperti ini, “Ash-shalaatu mi’rajul mu-min”, shalat adalah mi’raj nya seorang mukmin. Syaratnya tentu shalat yang khusyu. Mengangkat kita bertemu ALLAH.

Puncak pendakian kehidupan adalah taqwa. Tangganya adalah Islam, Iman, Ihsan, Ikhlash, taqwa. Mesinnya adalah shalat dan remnya adalah shaum. Maka ternyata bahasa Isra’ Mi’raj dapat menjadi sedemikian menarik dan terkait banyak aspek. Jika diperhatikan, dalam satu taushiyah ini saja, kita akan mendapat ilmu tentang Isra’ Mi’raj, kemerdekaan, shalat dan shaum yang semua itu telah sedang dan akan kita jelang dalam waktu dekat ini.

Lalu, Anda mungkin akan bertanya. Dimana letak keterkaitan Isra’ Mi’raj dan kemerdekaan? Sudah ditulis sebenarnya, bahwa kemerdekaan dapat diraih dengan kesucian. Kita tak dapat meraih kemerdekaan tanpa kesucian. Hal inilah yang menjadi makna tersirat dari Isra’ nya Rasulullaah saw dari Masjidil Haram yang merupakan lambang kesucian dan Masjidil Aqsha yang merupakan lambang kebebasan.

Wallahu a’lam bish shawwab.

  1. Agustus 25th, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: