Semua yang Terjadi untuk Menempa Kita


Manusia ini kalo boleh diibaratkan adalah ibarat batu bata.

Batu bata bermula dari tanah liat dan lumpur yang mungkin kita menganggapnya hina. Kita menginjaknya atau bahkan menghinanya. Namun kemudian tanah dan lumpur itu diambil oleh sang pembuat batu bata untuk dijadikan batu bata.
Tanah itu dicampur dengan campuran bahan tertentu, lalu diaduk, dibentuk dan dibakar.

Seperti dikutip penulis dari http://banjarkab.go.id/ mengenai sekilas pembuatan batu bata,
“Untuk membuat batubata, ternyata seorang pengrajin tidak semerta-merta bisa bekerja dengan bahan baku sembarangan. Untuk usaha tersebut, mereka bisa mendapatkannya dengan cara membeli dari para pengumpul tanah liat.

Caranya relatif gampang. Pada pinsipnya, tanah liat dilembutkan terlebih dulu kemudian diaduk dengan air yang ukurannya sudah ditentukan. Setelah itu adonan dasar tadi dibentuk dengan alat press persegi empat. Selaki press ada dua buah batubata yang dihasilkan.

Setelah selesai, batubata disusun sedemikian. Untuk selanjutnya dipanaskan dengan cara mengganggang di atas perapian. Setelah dingin, batubata biasanya langsung diambil para pengumpul. Saat itulah para pengrajin ini mendapatkan imbalannya”

Sesungguhnya manusiapun adalah pilihan. Tidak sekadar senda gurau dilahirkan dan diutuskan ke bumi. Dilahirkan dalam keadaan suci lalu seiring berjalannya waktu, ia ditempa berbagai hal dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan.

Rasulullah sedari kecil bahkan sebelum lahir yakni ketika masih dalam kandungan sudah ditempa banyak kesulitan. Ditinggal ayah ketika usia 4 bulan dalam kandungan, diserahkan kepada Halimah untuk diasuh dan disusui serta dididik jauh dari materialisme agar menjadi anak yang baik. Kemudian mengalami pencucian dadanya. Usia 6 tahun, tak lama setelah kembali dari asuhan Halimah..berangkat bersama sang Ibu ke makam ayahnya..di perjalanan sang Ibu dipanggil Allah.
Muhammad kecil kemudian diasuh sang kakek yang juga ternyata karena sudah saatnya, dipanggil sang Kuasa. Diasuh sang paman hingga dewasa. Turut berdagang hingga Syam.
Beranjak dewasa, menikah dengan Khadijah, ketika memasuki kenabian..sang istri meninggal saat beliau membutuhkan seorang pendamping untuk meneruskan dakwahnya. Lalu disusul sang paman, Abu Thalib yang senantiasa membela dirinya pun wafat dalam keadaan kafir belum berislam.

Banyak sekali tempaan yang menimpa junjunan kita.

Semua kesedihan, ujian, tempaan yang Allah berikan semata karena Allah sayang kepada kita.
Bukankah tanah liat itu pun bila bisa berbicara mungkin akan mengeluh, mengapa saya diambil lalu dilembutkan, dibentuk tapi kemudian dibakar berulang kali. Tanpa ia tahu sebenarnya semua proses “menyakitkan” itu adalah untuk mengangkatnya ke derajat yang lebih baik, yang lebih bernilai.

Sering pula ketika kita sudah bisa melewati ujian hingga telah menjadi batu bata yang berdaya jual cukup tinggi, kita lupa dan kemudian menjadi sombong. Apa sebab? Begini.

Dalam perjalanan sang batu bata, ia dipergunakan menjadi bahan untuk membuat sebuah bangunan misalnya. Dengan congkaknya ia mengatakan ialah yang mendirikan bangunan itu. Memang benar, tapi tak sepenuhnya dapat diterima. Kenapa? Karena sebuah bangunan tidaklah berdiri hanya dengan batu bata.

Dalam sebuah bangunan, ada bahan bangunan lain yang satu sama lain saling mendukung. Tidak ada yang lebih penting disana. Setiap bahan menempati posisi dan fungsi masing-masing.

Boleh jadi setelah bangunan itu selesai, yang menjadi sombong adalah cat yang memperindah tampilan. Padahal tidaklah demikian. Setiap bagian adalah penting. Mungkin iya yang tampil di permukaan adalah cat, namun cat itu takkan bisa berada di permukaan bangunan tanpa adanya batu bata dan komponen lainnya.

Dalam taushiyah tersebut sa dapet dua inti. Bahwa manusia ditempa karena kasih sayang Allah yang ingin mengangkat manusia dari derajat yang biasa saja tak bernilai atau bahkan hina menjadi yang memiliki nilai. Dan bahwa dalam sebuah bangunan, yang tampil memang segelintir saja -alias cat- namun ingat, ada komponen lain di belakangnya yang saling bekerja sama untuk berdirinya bangunan tersebut. Tak ada yang terpenting, semua penting.
Maka demikian pula dalam dakwah. Tak semua orang tampil di muka umum, tak semua menjadi ustadz yang berdakwah.. sebagian menempati posisi masing-masing yang sama pentingnya untuk tegaknya al-Islam. Para pengusaha muslim, para guru di sekolah, para pedagang, semua memiliki posisi penting dalam perjuangan tegaknya al-Islam.

Wallahu a’lam.

Islam itu tinggi dan ditinggikan atas yang lain.

  1. Islam diibaratkan sebuah bangunan. Dan setiap kita adalah salah satu bagian dari bangunan itu. Kita mempunyai peran, tanggung jawab untuk menyempurnakan bangunan itu. Apakah kita akan menjadi bagian dari lantai, bata, kayu, dinding, kolom, atap ataupun furniture pengisi ruang di dalam bangunan itu. Sekecil apapun kita akan tetap bermakna. Bukan Islam yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan Islam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: