Pelatihan Menulis Bersama Pa EWA


Hari ini, ahad 8 November 2009 ada beberapa agenda yang tengah berlangsung. Salah satunya di Bandung tepatnya di wilayah Bandung Tengah sedang diadakan pelatihan menulis bersama Pak Ersis Warmansyah Abbas yang sebelumnya juga pernah mengisi pelatihan serupa di MQFM Bandung bersama para pengurus pusat KITa Call Indonesia.

Ilmu memang bisa datang darimanapun. Hikmah pun adalah sesuatu yang hilang dari muslim yang hendaknya diambil kapanpun ditemukan. Begitulah ketika kita berbicara tentang pelatihan menulis bersama Pak EWA ini. Beliau sendiri lebih menyukai acara seperti ini bukanlah pelatihan menulis melainkan sharing menulis yang merupakan wujud dari Ersis Writing Theory alias EWT.

Unik. Itulah yang pertama kali pengurus dapatkan dari cara beliau berbagi mengenai penulis. Kenapa begitu? Sepertinya beliaulah satu-satunya penulis yang mengatakan “Tidak ada yang namanya penulis itu belajar menulis melalui guru menulis. Tidak ada guru menulis. Kenapa? Karena setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman. Semua ada di otak kita. Tak mungkin ada orang yang mampu membaca otak kita selain kita sendiri. Karena menulis sendiri adalah menuangkan kembali apa yang ada di dalam otak.

Ingin bisa menulis? Satu-satunya jawaban adalah dengan MENULIS. Belajar menulis dengan MENULIS. Tidak ada cara lain. Banyak orang berhenti pada tingkat mau.

Banyak permasalahan orang tidak menulis. Salah satunya malas. Sahabat akan tercengang ketika sahabat mendengar jawaban Pak EWA terhadap orang malas. “Bunuh saja orang itu“. Unik tapi menarik. Karena malas tidak pernah diajarkan Rasulullah, demikian tambah beliau. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah megajarkan kita untuk malas. Karena dianjurkan untuk senantiasa rajin pula, kita selalu tergoda untuk melawan perintah itu.

Banyak lagi alasan yang sebenarnya berasal dari diri kita yang menyebabkan kita tidak menulis. Bayangkan jika dulu para sahabat malas menuliskan firman Allah, tidak akan kita temui kitab suci al-Quran kita seperti saat ini. Seperti itulah yang terjadi dulu. Para shalafushshalih dahulu adalah para ilmuwan yang rajin menuliskan ilmu yang mereka kuasai. Lihatlah betapa dulu Islam berjaya, salah satunya adalah dengan menulis setiap pemikiran kita.

Menulis seperti dikatakan sebelumnya adalah menuangkan apa yang ada dalam pikiran. Maka yang harus kita lakukan pula adalah menambah isi otak kita. Membaca, mendengar, memperhatikan.

Iqro’. Itu perintah Allah pertama kali kepada Rasulullah. Membaca. Secara harfiyah ataupun maknawiyah. Kemudian bersamaan itu Allah mengatakan pula “Yang mengajarkanmu kalam [menulis]”. Adalah sebuah indikasi bahwa membaca dan menulis itu saling terkait, dan penting pula diperhatikan bahwa itu adalah perintah Allah pertama kali. Ketika Anda malas membaca, malas menulis, maka bisa dikatakan sahabat tengah melanggar perintah Allah. Bukanlah demikian silogismenya?

  1. Ini dia blog yang dicari
    tentang keagamaan yg ditonjolkan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: