Pengorbanan Sejati


“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) : ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil : “sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (Qs. Al-Maa’idah [5] : 27)

Alhamdulillah, KITa sudah memasuki bulan Dzulhijah. Dzulhijah merupakan bulan yang sangat istimewa bagi kaum muslim setelah bulan Ramadhan. Pada tiap bulan Dzulhijah, ada tiga bentuk ibadah yang penting bagi umat Islam, yaitu ibadah haji, idul adha dan kurban.Kurban adalah suatu amalan yang disyari’atkan Islam pada tahun kedua hijriyah berdasarkan dalil Al Quran, hadits dan Ijma’. Kurban berasal dari bahasa Arab yang bermakna qurbah atau mendekatkan diri kepada Allah. Al Quran mensyariatkannya melalui surat Al Kautsar ayat 1 – 2 “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Berkaitan dengan kurban, Anda pasti sudah sering mendengar dan mengenal ceritanya. Jika kita perhatikan dari kisah Nabi Ibrahim as, begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh beliau dan keluarganya. Setelah puluhan tahun menunggu untuk memperoleh seorang anak, ternyata Allah memerintahkan untuk mengirim istri beserta anaknya yang masih bayi ke daerah gersang dan sepi tak berpenghuni. Namun, beliau beserta keluarganya rela menjalankan perintah Allah tersebut. Pengorbanan beliau beserta keluarganya bukan itu saja, saat anak Nabi Ibrahim as, yaitu Nabi Ismail as menginjak usia remaja, datang lagi perintah Allah untuk menyembelih anaknya.

Dibalik perintah Allah untuk berkurban, ada banyak pelajaran berharga untuk KITa renungkan. Konsep pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap anaknya mengajarkan kepada KITa tentang ketakwaan, kepatuhan, kepasrahan dan keikhlasan seorang hamba kepada Sang Pencipta.  Apapun perintah Allah, meskipun terasa sangat berat dan perlu pengorbanan yang sangat besar, tetapi Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah tersebut. Ini dibuktikan dengan kesediaan untuk mengorbankan apa yang dimilikinya, termasuk yang paling dicintainya sekalipun, rela dikorbankan hanya demi mematuhi perintah Allah.

Inilah pengorbanan sejati. Pengorbanan yang mengisyarakan suatu bentuk pemberian secara total, sekalipun nyawa yang harus dikorbankan, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap anaknya, telah mengilhami para kekasih Allah untuk mengorbankan dan meninggalkan kecintaannya, bahkan dirinya sendiri terhadap dunia hanya demi untuk meraih cinta dan ridloNya.

Pengorbanan sejati telah melahirkan tokoh-tokoh dan pahlawan-pahlawan besar yang dikenang sepanjang sejarah. Rasulullah SAW beserta para sahabatnya merupakan figur-figur mulia yang dikenang sepanjang sejarah karena pengorbanannya untuk umat. Mereka dikenang karena rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga, waktu, ilmu dan perhatiannya, demi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat.

Pengorbanan sejati akan melahirkan sifat kasih sayang terhadap sesama, lingkungan dan bangsa, terutama dengan saudara kita yang kurang mampu. Seorang pekurban sejati rela menyembelih sifat egois, kikir dan tamak pada harta dan tahta, sehingga yang kuat selalu membantu yang lemah dan yang kaya memberi yang miskin. Ia akan memberi kekuatan ketika ada orang yang lemah dan rela berkurban untuk melindungi orang-orang yang teraniaya serta rela mengorbankan apapun untuk membantu orang lain. Bahkan, dalam rangka mendekatkan dirinya pada Allah, ia juga rela menyembelih kecintaannya terhadap harta, kedudukan dan apapun yang dimiliki dan dicintainya.

Jika spirit untuk senantiasa peduli, saling menyayangi, saling menyantuni, saling memberi, saling berempati, peka terhadap penderitaan orang lain, dan semangat berbagi demi meringankan beban atau membahagiakan orang lain senantiasa ada dalam diri, maka itulah seorang pekurban sejati. Bagaimana dengan Anda?

Nah, tunggu apa lagi? Yuuk, KITa korbankan pikiran, harta, jiwa, tenaga, waktu, ilmu, profesi dan jabatan KITa untuk mewujudkan kesejahteraan dan kehidupan yang membahagiakan umat. Insya Allah, apapun yang KITa kurbankan pasti akan Allah ganti dengan balasan terbaik. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya” (Qs. As-Saba : 39).
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: