Estafet Nasihat dari Sang Kekasih


(Kiriman dari Ust. Abu Ahmad Topan Setiadipura M.Si yang sedang menempuh program Doktor di Jepang)

Alhamdulillah… kamis siang kemarin,setelah sebagian kita menyelesaikan makan siang dan juga sholat zhuhur di musholla lantai sepuluh kita mulai berkumpul melingkar. Siang itu, sebagaimana telah berjalan hampir selama sebulan terakhir ini, kami akan mendengarkan tausiyah tiap hari senin dan kamis siang yang disebut kuldum yaitu kuliah dua puluh menit.

Siang itu, untuk pertama kalinya kuldum diisi oleh orang non-indonesia yaitu Al Akh Ahmad Musa dari Mesir. Menurut kabar rekan lain, beliau biasa memberikan materi tausiyah disaat bulan ramadhan, namun pasca ramadhan siang ini pertama kali beliau kembali memberikan ilmunya di musholla kampus.

Diantara hadits yang beliau sampaikan dalam materi Beliau mengenai Amalan di Bulan Muharram khususnya terkait dengan Shaum Asy Syuraa, beliau menyampaikan hadits yang terjemahnya sebagai berikut ,Abu Hurairah ra: “Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Subhanallah, kalimat awal yang dibacakan beliau dalam lafazd aslinya begitu nikmat didengar..’Aushooniy khaliiliy’ (kekasihku menasihatiku)..dan siang itu..nasihat yang agung dari Teladan Ummat shallallahu’alaihi wasallam kembali disampaikan sebagai bentuk nasihat kepada kami yang hadir siang itu. Sungguh menghadirkan suasana segar dalam hati, menguatkan kecintaan kepada manusia yang paling agung, Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Alhamdulillah, semangat dan tekad untuk memperhatikan nasihat sang Kekasih tersebut menguat kembali.

Fenomena pada saat penyampaian hadits ini menyadarkan bahwa ‘kecintaan’ memang perlu senantiasa dikuatkan. Disitulah ukhuwah begitu diperlukan, ukhuwah yang dihiasi dengan suasana saling mengingatkan, saling menyuguhkan pelajaran satu sama lain.

Siang ini, mushollah lantai sepuluh menjadi saksi penguatan apresiasi terhadap Sang Kekasih shallaahu’alaihiwasallam. Ketika Al Akh Rasyid Aqmar bercerita mengenai hijrah Rasulullah shallaahu’alaihiwasallam dalam kutbah jum’at, maka terangkatlah kembali bagaimana Beliau shallaahu’alaihiwasallam memberi ketenangan kepada Abu Bakr Ash Siddiq ketika mereka hampir tertangkap di gua..”Laa tahzan, innalllah ma’ana”.

Subhanallahu..begitu kuat pribadi beliau, begitu mantap ketenangan dan keyakinan beliau kepada Allah ta’ala. Padahal orang yag beliau nasihati saat itu juga bukan orang sembarangan, ia orang yang berani berdiri tegak menyatakan kebenaran nubuwwah pada saat orang lain masih ragu bahkan mendustakannya.

Kembali, gambaran mengenai Pribadi Teladan Ummat tersebut semakin menguat, meningkatkan rasa cinta bahkan kesiapan untuk ikut dan membela ajaran sang kekasih tersebut dengan segala potensi yang dimiliki.

Subhanallah..begitu perlunya kita kepada nasihat

-Abu Ahmad-

Kajian Tafsir Tematik

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: