Berdoalah dengan Suara Lembut


Berdoa adalah kebutuhan kita. Jika kita tidak berdoa, justru kita dianggap sombong. Allah swt sangat senang jika hambaNya banyak berdoa dan Dia berjanji mengabulkannya. Berikut ini adalah kiat singkat agar doa kita dikabulkan (maqbul):

  1. Menghadap kiblat
    Rasulullah saw datang ke tempat wuquf di Arafah dan beliau menghadap k iblat, lalu terus menerus berdoa hingga tenggelam matahari
  2. Membaca Hamdalah atau Pujian, Istighfar dan Shalawat
    Salah seorang sahabat Nabi saw berkata, “Ketika Nabi Muhammad saw duduk di mesjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat. Setelah selesai shalat ia membaca doa, ‘Allaahummaghfirlii warhamnii.’ Maka waktu itu Rasulullah saw pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika engkau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena dia yang memiliki pujian itu. Lalu engkau baca shalawat untuk Nabi Muhammad saw dan setelah itu Nabi bersabda, Berdoalah akan dipenuhi.”
  3. Dengan Suara Lembut dan Rasa Takut
    “Berserulah (berdoalah) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah swt) memperbaikinya. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 55-56)
  4. Yakin akan Dipenuhi
    Di dalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah, seperti hadits berikut ini: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla berfirman, Aku akan mengikuti prasangka hambaKu kepadaKu. Dan aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepadaKu”
    • masnun tholab
    • Maret 14th, 2011

    BERDO’A DENGAN SUARA LEMBUT
    Oleh : Masnun Tholab
    http://www.masnuntholab.blogspot.com

    Pendahuluan
    Berdo’a adalah merupakan ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambaNya. Allah subhanahuwata’ala berjanji akan mengabulkan hambaNya yang berdo’a kepadaNya.
    QS. Al-Mu’min/Ghafir 40 : 60
    وَقَالَ رَبُّكُمْ اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

    Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
    ان الدعاء هوالعبادة ثم قرأ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
    “Sesungguhnya do’a itu ibadah, kemudian beliau membaca : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku perkenankan bagimu” (HR. Ashabul Sunan dan Al-Hakim).
    [Ihya Ulumiddin 2, hal. 395]

    Berdo’a Dengan Suara Lembut
    Dalil 1
    QS. Al-A’raf (7) ayat 55 :
    اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

    Dalil 2
    QS. Al-A’raf (7) ayat 205 :
    واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والآصال ولا تكن من الغافلين
    Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

    Dalil 3
    QS. Maryam 19 : 3
    إذ نادى ربه نداء خفيا
    yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

    Dalil 4
    QS. Al-Israa 17 : 110
    قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا
    Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

    Dalil 5
    عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب»
    Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    ”Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.” (HR. Al-Bukhari 4/2076)
    [lihat Tafsir Al-Qurthubi 7, hal. 532]

    Dalil 6
    Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    ياأيها الناس إن الذي تدعون ليس باصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم و بين اعناق ركابكم
    Hai manusia, sesungguhnya zat yang kamu berdoa (kepadaNya) tidaklah tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu berdo’a (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu”. (Mutafaq ‘Alaih)
    [Ihya Ulumiddin 2, hal. 401]

    Pendapat Para ’Ulama Tentang Adab Berdo’a
    1. Ibnu Katsir
    Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan :
    أرشد تبارك وتعالى عباده إلى دعائه الذي هو صلاحهم في دنياهم وأخراهم فقال {ادعوا ربكم تضرعاً وخفية} قيل معناه تذللاً واستكانه, وخفية كقوله {واذكر ربك في نفسك} الاَية
    وفي الصحيحين عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب» الحديث, وقال ابن جريج عن عطاء الخراساني عن ابن عباس في قوله {تضرعاً وخفية} قال السر
    وقال ابن جرير تضرعاً تذللاً واستكانة لطاعته وخفية يقول بخشوع قلوبكم وصحة اليقين بوحدانيته وربوبيته فيما بينكم وبينه لا جهراً مراءاة وقال عبد الله بن المبارك بن فضالة عن الحسن قال: إن كان الرجل لقد جمع القرآن وما يشعر به الناس وإن كان الرجل لقد فقه الفقه الكثير وما يشعر به الناس وإن كان الرجل ليصلي الصلاة الطويلة في بيته وعنده الزوار وما يشعرون به ولقد أدركنا أقوماً ما كان على الأرض من عمل يقدرون أن يعملوه في السر فيكون علانية أبداً ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء وما يسمع لهم صوت إن كان إلا همساً بينهم وبين ربهم وذلك أن الله تعالى يقول {ادعوا ربكم تضرعاً وخفية} وذلك أن الله ذكر عبداً صالحاً رضي فعله فقال {إذ نادى ربه نداء خفياً} وقال ابن جريج يكره رفع الصوت والنداء والصياح في الدعاء ويؤمر بالتضرع والاستكانه. ثم روي عن عطاء الخراساني عن ابن عباس في قوله {إنه لا يحب المعتدين} في الدعاء ولا في غيره.
    Allah subhanahuwata’ala memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya agar mereka berdoa memohon kepadaNya untuk kebaikan urusan dunia dan akhirat mereka. Untuk itu Allah subhanahuwata’ala berfirman :
    ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين
    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
    Menurut satu pendapat, makna yang dimaksud ialah mengucapkan do’a dengan perasaan yang rendah diri, penuh harap dan dengan suara yang lemah lembut. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firmanNya :
    واذكر ربك في نفسك
    Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu… (QS. Al-A’raf 7 : 205)

    Didalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari yang menceritakan bahwa suara orang-orang terdengar keras saat mengucapkan do’anya. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب
    Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.
    Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firmanNya : “Dengan berendah diri dan suara yang lembut”
    Yang dimaksud dengan khiifah adalah suara yang pelan.
    Ibnu Jarir mengatakan, makna tadarru’ ialah berendah diri dan tenang dalam ketaatan kepadaNya. Yang dimaksud dengan khiifah ialah dengan hati yang khusyuk, penuh keyakinan terhadap Keesaan dan KekuasaanNya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.
    Abdullah Ibnul Mubarrak meriwayatkan dari Mubarak Ibnul Fudalah, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan shalat yang panjang-panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya banyak pengunjung yang bertamu tetapi mereka tidak mengetahuinya.Sesungguhnya kita sekarang menjumpai banyak orang yang tiada suatu amalpun di muka bumi ini mereka mampu mengerjakannya secara sembunyi, tetapi mereka mengerjakannya secara terang-terangan. Padahal sesungguhnya kaum muslim di masa lalu selalu berupaya dengan keras dalam do’anya tanpa terdengar suaranya selain hanya bisikan antara mereka dan Tuhannya.Demikian itu karena Allah telah telah berfirman dalam kitabNya :
    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. (QS. Al-A’raf 7 : 55)
    Dan firman Allah Subhanahu wata’ala ketika menceritakan seorang hamba yang saleh yang Dia ridhoi perbuatannya, yaitu :
    Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam 19 : 3)
    Ibnu Juraij mengatakan bahwa makruh mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdo’a; hal yang diperintahkan ialah melakukannya dengan penuh rasa rendah diri dan hati yang khusyuk. Kemudian Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firmanNya :
    Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf 7 : 55)
    Yakni dalam berdo’a dan dalam hal yang lainnya.
    [Tafsir Ibnu Katsir 8, hal. 359].

    2. Imam Al-Qurthubi
    Imam Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan :
    قوله تعالى: “ادعوا ربكم” هذا أمر بالدعاء وتعبد به. ثم قرن جل وعز بالأمر صفات تحسن معه، وهي الخشوع والاستكانة والتضرع. ومعنى “خفية” أي سرا في النفس ليبعد عن الرياء؛ وبذلك أثنى على نبيه زكريا عليه السلام إذ قال مخبرا عنه: “إذ نادى ربه نداء خفيا” [مريم: 3].
    ونحوه قول النبي صلى الله عليه وسلم: (خير الذكر الخفي وخير الرزق ما يكفي). والشريعة مقررة أن السر فيما لم يعترض من أعمال البر أعظم أجرا من الجهر. قال الحسن بن أبي الحسن: لقد أدركنا أقواما ما كان على الأرض عمل يقدرون على أن يكون سرا فيكون جهرا أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء فلا يسمع لهم صوت، إن هو إلا الهمس بينهم وبين ربهم. وذلك أن الله تعالى يقول: “ادعوا ربكم تضرعا وخفية”. وذكر عبدا صالحا رضي فعله فقال: “إذ نادى ربه نداء خفيا” [مريم: 3].
    وقد استدل أصحاب أبي حنيفة بهذا على أن إخفاء “آمين” أولى من الجهر بها؛ لأنه دعاء. وقد مضى القول فيه في “الفاتحة”.
    وروى مسلم عن أبي موسى قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في سفر – وفي رواية في غزاة – فجعل الناس يجهرون بالتكبير – وفي رواية فجعل رجل كلما علا ثنية قال: لا إله إلا الله – فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أيها الناس أربعوا على أنفسكم إنكم لستم تدعون أصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم). الحديث.
    Firman Allah, “Berdoalah kepada Tuhanmu” adalah perintah untuk berdo’a dan menyembah-Nya. Kemudian Allah menyandingkan perintah ini dengan sifat-sifat yang membuat do’a tersebut menjadi lebih baik. Seperti bersikap khusyu’, bersuara lembut, dan memohon dengan bersimpuh dihadapanNya. Maka lafadz “Wakhufyah” adalah bersuara pelan di dalam hati untuk menghindari perasaan riya. Oleh karena itu Allah memuji Nabi Zakaria di dalam firmanNya,
    إذ نادى ربه نداء خفيا
    Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam 19 : 3)
    Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
    خير الذكر الخفي وخير الرزق ما يكفي
    “Sebaik-baik dzikir adalah dengan suara yang lembut, sedangkan sebaik-baik rezeki adalah yang mencukupi” (Hadits ini disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’us Saghir no. 4009 dari riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi).
    Syariat telah menetapkan bahwa berbuat sesuatu yang baik dengan sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada melakukannya secara terang-terangan. Makna seperti ini telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah.

    Al Hasan bin Abu Al Hasan berkata, “Kami mengetahui ada beberapa kaum di muka bumi ini yang mampu nelakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi akan tetapi mereka selalu melakukannya secara terang-terangan. Kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam berdo’a, namun tidak terdengar suara mereka. Doa yang mereka panjatkan hanya berupa bisikan antara mereka dengan Tuhan mereka” (Lihat Tafsir Al Hasan Al Bashri 1/380).
    Hal itu karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” Begitu pula Allah menyebutkan seorang hamba yang shalih karena Dia ridha atas perbuatan hamba tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (QS. Maryam 19 : 3)
    Para pengikut Abu Hanifah berdalil dengan ayat ini bahwa mengucapkan aamiin dengan suara lembut lebih utama daripada diucapkan dengan suara keras. Karena lafadz tersebut termasuk do’a. Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan dalam surah Al-Fatihah.
    Muslim meriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan –dalam riwayat lain disebutkan, dalam sebuah peperangan- , lalu orang-orang mengeraskan suara takbir—dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada seseorang setiap kali mengeraskan suaranya saat mengucapkan, Laa ilaaha illallaah—, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    “Wahai manusia, lembutlah terhadap diri kalian sendiri. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdo’a kepada dzat yang tuli dan ghaib. Kalian sedang berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan dekat, Dia selalu bersama kalian” (HR. Al Bukhari).
    [Tafsir Al-Qurtubhi 7, hal. 530-532]

    3. Ibnu Jarir Ath-Thabari
    Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Kitab Tafsir Ath-Thabari menjelaskan :
    يقول تعالى ذكره: ادعوا أيها الناس ربكم وحده, فأخلصوا له الدعاء دون ما تدعون من دونه من الاَلهة والأصنام. تَضَرّعا يقول: تذللاً واستكانة لطاعته. وَخُفْيَةً يقول: بخشوع قلوبكم وصحة اليقين منكم بوحدانيته فيما بينكم وبينه, لا جهارا مراءاة, وقلوبكم غير موقنة بوحدانيته وربوبيته, فعل أهل النفاق والخداع لله ولرسوله. كما:
    1ـ حدثني المثنى, قال: حدثنا سويد بن نصر, قال: أخبرنا ابن المبارك, عن المبارك فضالة, عن الحسن, قال: إن كان الرجل لقد جمع القرآن وما يشعر جاره, وإن كان الرجل لقد فقه الفقه الكثير وما يشعر به الناس, وإن كان الرجل ليصلي الصلاة الطويلة في بيته وعنده الزوّار وما يشعرون به. ولقد أدركنا أقواما ما كان على الأرض من عمل يقدرون على أن يعملوه في السرّ فيكون علانية أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء وما يسمع لهم صوت إن كان إلاّ همسا بينهم وبين ربهم وذلك أن الله يقول: ادْعُوا رَبّكُمُ تَضَرّعا وَخُفْيَةً وذلك أن الله ذكر عبدا صالحا, فرضي فعله فقال: إذْ نادَى رَبّهُ نِدَاءً خَفِيّا.
    2ـ حدثنا ابن حميد, قال: حدثنا جرير, عن عاصم الأحول, عن أبي عثمان النهدي, عن أبي موسى, قال: كان النبيّ صلى الله عليه وسلم في غزاة, فأشرفوا على واد يكبرون ويهللون ويرفعون أصواتهم, فقال: «أيّها النّاسُ ارْبَعُوا على أنْفُسِكُمْ, إنّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمّ وَلا غائِبا إنّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعا قَرِيبا مَعَكُمْ».
    3ـ حدثنا القاسم, قال: حدثنا الحسين, قال: ثني حجاج, عن ابن جريج, عن عطاء الخراساني, عن ابن عباس, قوله: ادْعُوا رَبّكُمْ تَضَرّعا وَخْفْيَةً قال: السرّ.

    Allah berfirman : Wahai manusia, berdo’alah hanya kepada Tuhanmu. Bersikap ikhlaslah dalam berdoa kepadaNya tanpa berdo’a kepada yang lain seperti kepada tuhan-tuhan lain dan berhala-berhala.
    Firman Allah “Berserah diri” maknanya adalah merendahkan diri dan bersikap tenang dalam menaatiNya.

    Firman Allah “Dan suara yang lembut” maknanya adalah, dengan hatimu yang khusyu dan keyakinan yang benar darimu akan keesaanNya diantara dirimu denganNya. Bukan dengan suara yang terlalu keras dan hati yang tidak yakin akan keesaanNya dan pemeliharaanNya. Seperti tipuan yang dilakukan oleh orang-orang mubafik kepada Allah dan RasulNya.
    Riwayat-riwayat yang menjelaskan hal tersebut adalah :
    1. Al-Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata : Suwaid bin Nashr menceritakab kepada kami, ia berkata : Ibnu Al-Mubarak memberitakan kepada kami dari Al-Mubarak bin Fadhalah, dari Al-Hasan, ia berkata, ”Jika seseorang telah mengkaji Al-Qur’an secara keseluruhan, maka tetangganya tidak merasakannya. Jika seseorang itu memahami banyak pemahaman, maka orang lain tidak merasakannya. Jika seseorang melaksanakan shalat yang lama di rumahnya, lalu ada tamu yang berkunjung kepadanya, maka para tamu itu tidak merasakannya. Kami telah bertemu dengan beberapa orang di atas bumi ini, sebenarnya mereka mampu melakukan suatu amal secara rahasia, akan tetapi selamanya ia justru melakukannya secara terang-terangan. Pada zaman dahulu kaum muslim berdo’a bersungguh-sungguh, akan tetapi orang di sekeliling mereka tidak mendengarnya melainkan hanya seperti pembicaraan antara ia dengan Tuhannya, karena Allah berfirman : ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut” Sebab Allah menyebutkan tentang seorang hambaNya yang shalih dan Dia menyukai perbuatan hambaNya itu, ”yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (QS. Maryam 19 : 3) (Ibnu Al-Mubarak dalam Az-Zuhd 1/49 dan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mansur 3/476.

    2. Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata : Jarir menceritakan kepada kami dari Ashim Al-Ahwal, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam berada dalam suatu peperangan, mereka berada di suatu lembah, mereka bertakbir dan mengucapkan kalimat ’Laa ilaaha illallaah’ dengan mengangkat suara tinggi. Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Wahai manusia, konsistenlah terhadap urusan kamu. Sesungguhnya kamu bukan menyeru kepada Tuhan yang tuli dan yang gaib, akan tetapi kamu menyeru kepada Dia Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Dia bersama kamu” (Al-Bukhari dalam Al-Maghazi no. 4205; Muslim dalam Adz-Dzikr wa ad-Du’a no. 44).

    3. Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata : Al-Husein menceritakan kepada kami, ia berkata : Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, dari Atha Al-Khurasani, dari Ibnu Abbas, tentang ayat, ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut”. Ia berkata, ”Maknanya adalah, dengan rahasia” (Al-Baghawi dalam Ma’alim At-Tanzil 2/482.)

    4. Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahali

    Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahali dalam kitab Tafsir Jalalain menjelaskan :
    { ادعوا ربكم تضرعا } حال تذللا { وخفية } سرا { إنه لا يحب المعتدين } في الدعاء بالتشدق ورفع الصوت
    (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri) menjadi hal, yakni merendahkan diri
    (dan dengan suara yang lembut) secara berbisik-bisik
    (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas) di dalam berdoa. Seperti banyak berbicara dengan suara yang keras.

    5. Imam Syafi’i
    Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :

    وأي إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن وأختار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر فإن الله عزو وجل يقول ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
    Saya memilih untuk berdzikir kepada Allah setelah selesai shalat dengan merendahkan suara bagi imam dan makmum, kecuali apabila ia adalah seorang imam yang wajib diambil pelajaran darinya, maka ia harus mengeraskan bacaan dzikirnya hingga ia mengira bahwa orang-orang telah mengerti dan mendapat pelajaran darinya. Kemudian ia membaca perlahan-lahan, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala berfirman,
    “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya” (QS. Ali-Imran 17 : 110).
    [Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 197].

    6. Imam Ghazali
    Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan tata kesopanan berdo’a :

    خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روي أن أبا موسى الأشعري قال‏:‏ قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم ‏”‏

    Melunakkan suara antara menyembunyikan dan mengeraskan karena diriwayatkan bahwasanya Abu Musa Al-Asy’ari berkata :
    “Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم
    ‘Wahai manusia, sesungguhnya Dzat Yang kamu berdo’a (kepadaNya) tidaklah tuli dan ghaib. Sesungguhnya Dzat yang berdoa (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu,” (Mutafaq Alaih).
    [Kitab ihya Ulumiddin 2, hal. 401].

    Penutup
    Uraian di atas bukanlah pendapat penulis pribadi, melainkan pendapat para ulama ahli tafsir terkemuka di kalangan umat islam. Karena Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam mengingatkan agar kita tidak menafsirkan alquran sesuai dengan pikiran sendiri, melainkan harus diserahkan kepada para ahlinya, dalam hal ini para ulama ahli tafsir.
    At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah, beliau bersabda :
    اِتَّقُوا الْحَدِيْثَ عَنِّي اِلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَ فِي القرآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
    “Jagalah hadits dariku kecuali yang telah aku ajarkan. Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka. Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya dari neraka”
    [HR. At-Tirmidzi, Bab Tentang Orang Yang Menafsirkan Al-Quran dengan Pendapatnya Sendiri, no. 2591]
    [lihat Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 75]

    Diriwayatkan dari Jundab, dia berkata, Rasulullah bersabda :
    وَمَنْ قَالَ فِي القرآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
    “Siapa yang berbicara mengenai Al-Quran dengan pendapatnya sendiri kemudian benar, dia tetap dianggap salah”
    [HR. At-Tirmidzi, Bab Tentang Orang Yang Menafsirkan Al-Quran dengan Pendapatnya Sendiri, no. 2592]
    [lihat Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 76]

    Sumber Rujukan :
    -Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Puataka Imam Syafi’i, 2003.
    -Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
    -Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung, 2003
    -Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008.
    -Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
    -Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
    -Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
    -Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang

  1. Oktober 19th, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: