Tauhid


Tauhid dari akar kata ahad atau wahid artinya satu. Dalam Islam, ia adalah asas keyakinan (akidah) bahwa Tuhan itu hanya satu, yakni Allah swt dan tidak ada yang setara juga sekutu dengan-Nya. Dia yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Hanya Dia yang ditaati dan ditakuti. Hanya Dia yang menentukan segala sesuatu di dunia dan akhirat nanti. Tauhid dirangkum dalam kalimat tahlil, Laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah).

Tauhid terdiri dari 3 aspek, yakni tauhid dalam kekuasaan Tuhan (tauhid rububiyah), ibadah (tauhid uluhiyah), dan dalam nama dan sifat Allah (asma wa shifat).

Rububiyah yakni mempercayai dan mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, serta menjaga seluruh alam semesta. “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (QS Az-Zumar: 62)

Uluhiyah artinya hanya kepada Allah setiap ibadah ditujukan, tidak ada persembahan atau pengabdian pada selain-Nya dan hanya Allah yang layak disembah. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid, ibadah adalah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah hakekat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya.

Asma wa shifat artinya bahwa sesuai nama dan sifat (karakteristik) Allah yang disebutkan baik oleh al-Quran dan al-Hadits adalah hanya berhak disandang oleh Allah saja.

Umat Islam diperintahkan hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi thoghut. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut” (WS An-Nahl: 36).

Thaghut sendiri merupakan setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati atau dipatuhi baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun syetan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, thaghut adalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seseorang secara melampaui batas, baik dalam hal penyembahan, ketaatan atau ikutan. Karena itu thaghut adalah segala sesuatu yang diminta untuk memutuskan perkara selain dari Allah dan Rasul-Nya selain Allah yang disembah, yang diikuti padahal tidak selaras dengan syariat Allah atau ditaati dalam hal-hal yang tidak diketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ini semua adalah thaghut dunia ini.

Syaikh Sulaiman bin Sahman an-Najdi berkata, Thaghut itu ada tiga macam, thaghut dalam hukum, thaghut dalam peribadatan dan thaghut dalam ikutan. Mengikuti hukum selain hukum Allah, mengabdi kepada selain Allah dan mengikuti selain perintah Allah berarti mengikuti thaghut menyalahi tauhid.

Wallaahu a’lam.

  1. Tauhid Dalam Dinul Islam (Sistem Islam) Secara Garis Besar Terbagi 2:
    1. Tauhid Hakikiyah (Teoritis), yaitu ajaran tentang meng-Esa-kan Alloh yang masih bersifat melangit, dimana tauhid hakikiyah atau tauhid teoritis ini ruang lingkupnya hanya sebatas dalam tataran akal dan keyakinan yang bersifat melangit, belum dalam bentuk tataran syari’at, aturan atau perundang-undangan nyata yang diterapkan dalam tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara (khilafah Islam fil Ardl).
    A. Tauhid fii Dzat.
    B. tauhid fii Sifat.
    C. Tauhid fii Asma’
    D. Tauhid fil Af’al

    2. Tauhid Syar’iyah (Praktis) yaitu ajaran tentang meng-Esa-kan Alloh yang bersifat konkrit dalam bentuk syari’at atau aturan nyata yang diterapkan dalam seluruh aspek tatanan kehidupan bermasyarakat, dimana ruang lingkup tauhid ini tidak hanya sebatas tataran akal, keyakinan dan lisan saja, akan tetapi mencakup aktualisasi dalam bentuk sikap dan perbuatan nyata yang diterapkan dalam seluruh aspek tatanan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara dengan menjadikan Alloh SWT sebagai satu-satunya sumber Rububiyah (aturan atau legalitas), sumber Mulkiyah (kewenangan atau otoritas) dan sumbur Uluhiyah (keta’atan atau loyalitas).
    A. Tauhid Rububiyah (Qs 114:1).
    B. Tauhid Mulkiyah (Qs 114:2).
    C. Tauhid Uluhiyah (Qs 114:3).

    SEKILAS PENJELASAN TAUHID RUBUBIYAH, MULKIYAH & ULUHIYAH:

    A. Yang dimaksud dengan orang yang ber-Tauhid Rububiyah adalah orang yang meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hatinya bahwa Langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum untuk dijadikan pedoman dalam manata dan mengatur seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 22:67 / 42:13 / 45:18 / 13:37,41 / 10:37 / 6:57 / 33:36. Jika ada manusia yang menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum, tanpa ada otoritas (kewenangan resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis oleh Alloh SWT sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76 / 6:112,123.

    Ingatlah…!!! Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.

    Sedangkan orang yang diberi otoritas (kewenangan resmi) oleh Alloh SWT untuk menggulirkan ajaran; aturan dan hukum hasil ciptaan Alloh (Kitabulloh) di bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Pangkat seorang Rosul saja tidak berhak untuk menciptakan ajaran; aturan dan hukum, ia hanya sebatas seorang mandataris Alloh SWT (pengemban amanat dari Alloh SWT). Setelah Rosululloh SAW wafat kemudian mandat (amanat) tersebut dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.

    B. Yang dimaksud dengan orang yang ber-Tauhid Mulkiyah adalah orang yang meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hatinya bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan di Jagat Raya ini dan yang berhak untuk memimpin dan memerintah seluruh makhluk yang ada di dalamnya ialah hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 67:1 / 25:2 / 5:120 / 20:114 / 23:116 / 6:18,61,73 / 10:65.

    Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan dan yang diberi legalitas untuk memimpin dan memerintah di planet bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Yang kemudian dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.

    Jika ada manusia yang mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan kemudian ia memimpin dan memerintah di muka bumi ini tanpa ada legalitas (izin resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76. Mereka inilah yang dimaksud oleh Alloh SWT sebagai pembuat makar (pembuat kejahatan / pemberontak) yang sebenarnya terhadap hak dan kedaulatan Alloh SWT Qs 6:112,123 / 6:61 / 10:65.

    C. Yang dimaksud dengan orang yang ber-Tauhid Uluhiyah adalah orang yang meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hatinya bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk ditaati aturan dan kebijakan hukum-hukumnya oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini adalah hanyalah hak Alloh saja Qs 16:52 / 39:11 / 40:14,65 / 3:18 / 6:3 / 17:44 / 22:18 / 24:41 / 7:59,206 / 16:2,49 / 40:62-66 / 18:110 / 20:14 / 21:25 / 98:5.

    Jika ada makhluk atau manusia atau siapa saja yang meminta dirinya supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya, maka itulah yang dimaksud dengan Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya hanya-lah Rosululloh SAW dan Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini, selain itu tidak ada lagi yang diberi legalitas (Izin resmi) oleh Alloh SWT…..!!! Qs 3:32,132 / 4:59,69,80 / 8:20,24,46 / 6:36.

  2. Ass,wr,wb mohon berkunjung ke blog kami
    Http:\\sahadatsejatiningurip.wordpress.com
    mari kita bersama berbagi

    Salam persaudaraan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: