Archive for the ‘ Karya KITA ’ Category

Pelatihan Menulis Bersama Pa EWA


Hari ini, ahad 8 November 2009 ada beberapa agenda yang tengah berlangsung. Salah satunya di Bandung tepatnya di wilayah Bandung Tengah sedang diadakan pelatihan menulis bersama Pak Ersis Warmansyah Abbas yang sebelumnya juga pernah mengisi pelatihan serupa di MQFM Bandung bersama para pengurus pusat KITa Call Indonesia.

Ilmu memang bisa datang darimanapun. Hikmah pun adalah sesuatu yang hilang dari muslim yang hendaknya diambil kapanpun ditemukan. Begitulah ketika kita berbicara tentang pelatihan menulis bersama Pak EWA ini. Beliau sendiri lebih menyukai acara seperti ini bukanlah pelatihan menulis melainkan sharing menulis yang merupakan wujud dari Ersis Writing Theory alias EWT. Baca lebih lanjut

Iklan

Garam & Telaga


kur1-telaga-warna-02.jpg

Suatu ketika hiduplah seorang tua yang yang bijak ,pada suatu pagi ,datanglah seorang pemuda yang sedang dirundung banyak masalah,langkahnya gontai dan air ,mukanya ruwet,tamu itu memang seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa mambuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya ,pak tua yang bijak hanya mndengarkannya dengan seksama ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air dimasukannya garam itu kedalam gelas lalu diaduknya perlahan coba minum ini dan katakanh apa rasanya …?ujar pak tua itu ,pahit….pahit…….pahiiit sekali jawaban sang tamu sambil meludah kesamping.
Pak tua itu sedikit tersenyum ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ketepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya ,kedua orang itu berjalan berdampingan akhirnya sampailah mereka ketepi telaga yang sepi dan tenang itu.

Pak tua itu ,lalu kembali menaburkan segenggam garam ,kedalam telaga itu dengan sepotong kayu yang dibuatnya gelombang dan mengaduk ngaduk dan tercipta riak air,mengusik ketenangan telaga itu …” coba ambilah air dari telaga ini ,dan minumlah ,saat tamu itu selesai mereguk air itu ,pak tua berkata lagi bagaimana asanya ..?..”segar…sahut tamunya …apakah kamu merasakan garam didalam air itu…”tanya pak tua lagi tidak jawab sianak muda.

engan bijak pak tua itu menepuk nepuk punggung sianak muda ,ia lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh disamping telaga itu,anak muda dengarlah pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam tak lebih dan tak kurang jumlah dan rasa pahit itu adalah sama .dan akan tetap sama…..Tapi,kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki ,kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakan segalanya.itu semua akan tergantung pada hati kita jadi saat kita merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup hanya ada satu hal yang dapat kita lakukan ,lapangkanlah dadamu menerima semuanya luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.

ak tua itu lalu kembali memberikan nasehat”Hatimu adalah wadah ituPerasaanmu adalah tempat itu’Kalbumu adalah tempat kamu manampung segalanya jadi jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadikan kesegaran dan kebahagiaan .Keduanya lalu beranjak pulang mereka sama sama belajar hari itu,dan pak tua siorang bijak itu kembali menyimpan segenggam garam”untuk anak muda yang lain yang sering datang kepadanya dengan membawa keresahan jiwa.

Pengirim : Ikhsan
email : AbuBa_8@yahoo.co.id
site Blog : http://istanasurgaku.blogspot.com

Wajib aja nggak Cukup…!!!


oleh : Agus Al Muhajir

“Wajib aja nggak cukup …!!!” Kata-kata ini akan terus menjadi sebuah kata motivasi yang mudah-mudahan akan menguatkan tekad siapapun yang ingin terus mencari dan merindukan kedekatan dengan Allah SWT.Kata-kata ini pula yang kami putuskan untuk menjadi sebuah semboyan yang akan tertera di kaos Keluarga Tahajud call Indonesia .

Sahabat, seperti kita tahu, sering kali kita mengangkat tangan kita mengharap sesuatu kepada Allah SWT dengan segala harap Allah akan mengabulkan setiap permintaan kita. Seringpula kita mempertanyakan kepada Allah SWT tentang kemurahannya saat ada permintaan kita yang belum dikabulkanNya. Tapi pernahkah kita mempertanyakan kepada diri kita sendiri tentang penyebab itu semua.

Meskipun sangat tidak layak kita mengibaratkan Allah dengan makhluk, mari kita sejenak lihat kepada diri kita.Sebagai seorang manusia mana yang anda paling sukai, orang yang memberikan lebih untuk anda atau orang yang hanya memberikan sesuatu yang standar saja untuk anda ?. Saya yakin sebagian dari kita pasti akan memilih orang-orang yang memberi lebih sebagai orang-orang kesayangan kita.

Sejenak mari kita berkaca pada dunia marketing, strategi memberi lebih dari yang diharapkan adalah sebuah strategi yang ampuh untuk bisa bertahan ditengah persaingan. sebagai contoh, seorang teman pernah bercerita ketika dia pergi ke tempat kebugaran di sebuah negara tetangga, ternyata dia mendapat sesuatu yang lebih diluar perkiraannya, dimana beliau disuguhi makanan khas negara tersebut sepuasnya tanpa dia pesan , gratis pula. Efeknya, dia menjadi konsumen loyal tempat kebugaran itu plus dia menjadi agen ” word Of Mouth ” secara tidak sadar termasuk ketika dia bercerita kepada saya .

Sekarang mari kita melihat kepada diri kita,  sudahkah kita juga menerapkan strategi memberi lebih bagi amal-amal kita untuk memenangkan persaingan amal baik di dunia ini ?

Sahabat, sudah saatnya kita tidak merasa puas hanya dengan ibadah wajib kita. Sudah saatnya kita mulai dengan sangat giat menambahnya dengan ibadah-ibadah sunat kita termasuk tahajud,  karena ” wajib aja nggak cukup..!!!!”

BERHENTI MENYERAH


 

Penulis: Sari Amelia

Pagi ini saya tertegun memandang sebuah amplop yang saya genggam. Di sudut amplop itu tertulis, “Untuk Ichee. Semangat ya, Dek!” Di bawah tulisan itu tertulis, Bunda Fatih. Saya heran, kapan amplop ini dimasukkan ke tas saya?

Tes tes. Tak terasa air mata saya jatuh. Teringat kejadian beberapa hari lalu. Ketika saya dikagetkan oleh kehadiran seseorang sewaktu memasuki kamar. Orang tersebut biasa saya sebut Mbae Terbaik di Dunia. Seorang kakak yang saya kenal empat tahun lalu di kost-an pertama di Bandung. Saya malu, sebagai adik, saya-lah yang seharusnya mengunjungi Mbae duluan.

Mbae hanyalah jalan dari Allah untuk mengabulkan permintaan saya. Beberapa minggu terakhir, saya sering memohon, “Allah mudahkan urusan hamba dan berikan hamba kejernihan berpikir serta jauhkan hamba dari kemalasan, sehingga tugas akhir hamba bisa selesai tanggal 10 Agustus ini ya Rabb. Agar hamba bisa membahagiakan orang tua dengan melihat anaknya diwisuda.”

Sebenarnya minggu ini adalah minggu terberat buat saya. Sebentar lagi, tugas akhir tersebut harus dikumpulkan sementara software yang saya buat masih error di mana-mana, belum lagi ada program yang tak ter-save dengan baik sewaktu di-close. Saya merasa tertekan. Terlebih seorang teman yang selama ini saya andalkan untuk membantu uring-uringan karena sebuah kesalahan yang telah saya lakukan. Huff. Saya hanya bisa menangis. Harapan lulus Oktober, buyar. Saya memutuskan untuk menyerah. Saya pun jadi malas-malasan mengerjakan tugas akhir. Padahal saya sudah berjanji pada orang tua dan beberapa teman kalau saya akan lulus Oktober ini. Saya malu.
Alhamdulillah, Allah memberi jalan. Setidaknya, menangis dan mengadu kepada Allah terutama di sepertiga malam membuat beban saya perlahan berkurang. Perlahan hati saya menjadi plong. Saya pasrah. Saya hanya bisa bertaubat karena telah berharap pada makhluk-Nya. Padahal tiada daya dan upaya melainkan Dia semata. Allah-lah penggenggam diri kita.

Allahu Akbar. Allah menggerakkan diri saya membaca sebuah postingan yang pernah saya tulis dulu. Postingan tentang sumber motivasi hakiki. Di postingan itu juga terdapat beberapa comment dari sahabat-sahabat yang merasa termotivasi membaca postingan tersebut. Sekali lagi, saya malu. Malu pada diri sendiri. Saya-lah yang menulis tulisan itu, tapi kenapa justru orang lain termotivasi sementara saya tidak?

Allahu Akbar. Maha Suci Allah. Allah membuka pikiran saya. Saya menyusun kembali rencana apa saja yang bisa saya lakukan. Saya merefleksi diri, kenapa saya belum berhasil? Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Sejauh mana usaha saya selama ini?

Alhamdulillah, Allah lagi-lagi mengabulkan do’a saya dengan memberikan saya berbagai kemudahan. Hubungan dengan teman yang awalnya uring-uringan, menjadi baik. Bahkan Allah memudahkan urusan saya dengan teman lain yang siap membantu memperbaiki softwre yang saya buat. Tak hanya itu, Allah juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang memacu saya untuk bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut. Allah memompa saya dengan motivasi lain. Bayangan berkumpul kembali dengan orang tua setelah di wisuda, proyek dosen ke Bali plus bungee jumping, dan berbagai motivasi lain. Namun yang lebih utama dari itu semua, mensyukuri nikmat ilmu yang telah diberikan oleh Allah.

Dan nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang akan kamu dustakan?

Ya, Allah memang belum mengabulkan keinginan agar tugas akhir saya beres hari ini. Lebih dari itu Allah memberikan saya orang-orang yang selalu memotivasi sehingga saya bisa bangkit kembali. Pelajaran berharga yang tak akan saya dapatkan di training motivasi manapun.

Allah, betapa luas karunia-Mu. Engkau tak pernah berhenti memberikan nikmat-Mu di saat diri ini lengah. Ya ‘Alim, Ya Rasyid, cukuplah Engkau sebagai penolongku.

KERINGKAH AIR MATA INI???


Saudaraku…yang dengan indahnya ISLAM engkau Allah muliakan,
Airmata adalah wujud ekspresi yang mempertemukan kesedihan dan kebahagiaan.
Dengan air mata pula Allah melunakkan setiap qalbu hamba-hambaNya…

Kesedihan…ketika kita meratapi segala masa lalu kita yang kelam
Kebahagiaan…ketika Allah karuniakan kita hidayah

Namun…
Seiring dengan berjalannya waktu…
Terkadang air mata ini seolah mengering..

Tak ada lagi rintihan akan ratapan masa lalu yang dengannya Allah karuniakan kita
untuk bertaubat
Tak ada lagi kecemasan yang akan hari akhir yang Allah janjikan kedatangannya

Terkadang…kita tertipu dengan amal shaleh yang telah kita lakukan..
Seolah… sudah menjadi suatu kepastian bahwa surga telah ada dalam genggaman

Padahal..Saudaraku..
Dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan…
Sudah pasti tercatat dalam catatan masa lalu kita yang kelam

Namun,
Segala amal shaleh yang kita lakukan
Belum tentu Allah terima…

Itulah yang akan memupuskan ketertipuan kita
Agar kita Allah selamatkan dari sifat ghurur

Karena amal shaleh yang kita lakukan belum tentu Allah terima,
Oleh karena itulah…disana ada harapan kepada Allah
Disana ada tangisan untuk memohon dengan segenap diri agar Allah menerima setiap amal ibadah kita

Karena dosa dan kemaksiatan sudah pasti tercatat
Oleh karena itulah…disana ada rintihan seorang hamba
Yang terus memohon agar Allah mengampuni segala dosa-dosanya…

Saudaraku….
Indahnya hidup ini hanya akan terasa saat kita selalu bergantung kepada Allah
Selalu merasakan Allah dalam setiap langkah dan tarikan nafas kita…
Selalu merasakan kasih sayang Nya dalam setiap episode kehidupan kita…
Di sanalah air mata ini akan kembali mengalir…
Membasahi setiap malam-malam kita..
Membasahi setiap pertemuan kita di penghujung malam

Saudaraku…
Menangislah dalam gelapnya malam dimana saat itu hanya ada engkau dan Dia…
Ungkapkanlah semua masalahmu pada Nya…
Karena Dia lah yang memiliki semua jalan keluar dari setiap masalahmu

Saudaraku…
Menangislah bila malam tadi engkau terlewat dari menangis kepada Nya…
Bila rasa kantuk menahanmu untuk bangkit dan bermunajat
Karena sungguh..
Boleh jadi diri ini dinilai begitu hina sehingga tidak Allah berikan kesempatan untuk bersua dengannya…

Karena boleh jadi dosa-dosa kita di waktu siang yang menjadi penghalang kita mendapat kesempatan bermunajat kepada Nya…

Ya Allah…
Andaikata Engkau dapati hati ini begitu kotor sehingga keringlah air mata ini, bersihkanlah ia…
Sehingga diri ini dapat merasakan kembali indahnya bermunajat kepada Mu

Ya Allah..
Andaikata Engkau dapati hati ini dalam keadaan mati dan membusuk
Maka gantikanlah ia dengan hati yang baru…yang dengannya kami memulai kehidupan yang baru…

Dalam keagungan Mu kuharapkan kasih sayang Mu…

Kesunyian kerajaan malam
Tobat-UBA-Cmh

KISAH RASULULLAH DAN 4 JALAN


Penulis : Sari Amelia

 

rasullulah.jpg

 

Gantilah kata-kata negatif yang biasa Anda gunakan dengan kata-kata positif. Mungkin pesan tersebut adalah pesan yang paling sering Anda temukan jika membaca buku-buku motivasi dan psikologi populer. Sebut saja misalnya, Quantum Learning-nya Colin Rose dan J. Micholls.

Tahukah Anda, sebenarnya Rasulullah SAW telah menyontohkan hal ini jauh sebelum Quantum Learning membumi. Coba saja simak bagaimana cara Rasulullah memilih jalan yang harus beliau lalui sewaktu hendak menuju Khaibar dalam penggalan kisah Perang Khaibar.

Untuk menuju ke Khaibar, Rasulullah memanggil dua orang penunjuk jalan yang diikutsertakan dalam rombongan pasukan Muslimin. Kedua orang ini tentu saja bertugas menunjukkan jalan yang lebih baik. Dalam perjalanan, pasukan Muslimin menemui sebuah persimpangan yang memiliki empat cabang.

Salah seorang penunjuk jalan berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah beberapa jalan yang semuanya bisa ditempuh untuk mencapai tujuan.”

Apa yang dilakukan Rasulullah? Sederhana saja, beliau hanya meminta Sang Penunjuk jalan, Husail, menyebutkan nama jalan-jalan tersebut satu persatu.

Jalan pertama. “Nama jalan ini adalah Huzn (Kesedihan).” Beliau tidak mau melalui jalan tersebut.

Jalan kedua. “Yang itu namanya jalan Syasy (Kacau).” Beliau menolak melalui jalan ini.

Jalan ketiga. “Yang itu namanya Hathib (Sial).” Lagi, Rasulullah SAW menolak.

“Berarti hanya tersisa satu jalan,” ujar Husail.

“Apakah namanya?” Tanya Umar bin al-Khaththab.

Marhab (Selamat Datang).” Jalan inilah yang akhirnya dipilih oleh Rasulullah.

See, beliau tidak meminta Sang Penunjuk jalan menjelaskan apa saja yang telah terjadi pada masing-masing jalan. Beliau hanya menanyakan nama masing-masing jalan. Beliaupun memilih Marhab (selamat Datang) dibandingkan Huzn (Kesedihan), Syasy (Kacau) ataupun Hathib (Sial).

Berkat pertolongan Allah, Khaibar bisa ditaklukkan dan pasukan Muslimin kembali ke Madinah dalam senyum kemenangan.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury terbitan Pustaka al-Kautsar

Jikalah….


Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedangkan dermawan justru akan melipatgandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusungkan dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,

Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang berteraskan di atas permadani
Sambil bercengkrama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha
senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja
dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak
mengulangi lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas
alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)].

Suatu hari nanti

Ketika semua telah menjadi masa lalu

Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai! Harta yang dahulu ku kumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi
langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak ku buat menjadi
amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)

(Duhai! Nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)].

Sebelum mentari menyapa
by UBA7H – Cimahi

Iklan