Archive for the ‘ Renungan ’ Category

Ciri Orang Beriman


قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ {1} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ {2} وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ {3} وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ {4} وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ {5} إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ {6} فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ {7} وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ {8} وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ {9} أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ {10} الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {11}

Membaca kembali firman Allah dalam al-Quran, kita akan menemukan kembali lautan ilmu petunjuk yang Allah turunkan untuk kita menjalani hidup. Kali ini kita membaca dan mengambil intisari dari QS. Al-Mu`minun [23]. Baca lebih lanjut

Iklan

Jalan Yang Lurus


001. Al Faatihah

1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

2. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam

3. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

4. Penguasa hari akhir Baca lebih lanjut

Pengorbanan Sejati


“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) : ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil : “sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (Qs. Al-Maa’idah [5] : 27)

Alhamdulillah, KITa sudah memasuki bulan Dzulhijah. Dzulhijah merupakan bulan yang sangat istimewa bagi kaum muslim setelah bulan Ramadhan. Pada tiap bulan Dzulhijah, ada tiga bentuk ibadah yang penting bagi umat Islam, yaitu ibadah haji, idul adha dan kurban. Baca lebih lanjut

12 Barisan di Akhirat


Suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: “Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: “Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.” (QS An-Naba:18)”

Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: “Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.” Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut….. Baca lebih lanjut

Rahasia Zuhud di Dunia


Seorang lelaki bertanya kepada Hasan Bashri: “Wahai imam, apakah penyebab (rahasia) dari sikap zuhudmu terhadap dunia?”

Beliau menjawab, “Ada empat hal,

  1. Ketika aku sudah mengetahui bahwa rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, maka tenanglah hatiku
  2. Ketika aku telah mengetahui bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku menyibukkan diriku dengannya
  3. Ketika aku mengetahui bahwa Allah swt selalu mengawasiku, maka aku malu apabila Ia melihatku melakukan suatu maksiat
  4. Ketika aku telah mengetahui bahwa maut sedang menungguku, maka aku mempersiapkan bekal untuk menghadap kepada Tuhanku.

Hizbusy-syaithon


Sebuah taujih yang hendaknya menjadi renungan agar kita bisa bermuhasabah dan menjadi lebih baik.

Ciri-cirinya dalam konteks kekinian,

  1. QS. An-Nahl: 36
    فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ
    “maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya”
  2. Al-Mujadilah: 22
    يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
    “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”

Langkah yang diambil hizbusy-syaithon

  1. Mengeluarkan dari cahaya Allah dan nilai-nilai keimanan.
  2. Tazghin, membaguskan kemaksiatan.
  3. Taswis, membisikkan kejahatan dan meragukan

Ciri Hizbusy-syaithon,

  1. Lupa kepada Allah (Al-Mujadilah: 19)
  2. Mengekor hawa nafsu, ga mampu melawan hawa nafsu
  3. Menjauhi al-Quran
  4. Dikuasai syetan.

Kenapa kita harus tau mengenai Hizbusy-syaithon ini? Karena mereka ada di sekitar kita. Kedoknya bermacam-macam, selalu menghalangi dari jalan Allah. Dan karena sebagian besar Hizbusy-syaithon adalah orang-orang yang mengerti namun tak mampu mengendalikan hawa nafsu.

Takwa (Sambungan Lalu)


Tampaknya ayat paling populer karena sering disampaikan oleh para khatib Jumat adalah yang berbunyi: “Hai orang-0rang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim. (QS. Ali Imron: 102)

Karakteristik atau ciri-ciri orang bertakwa cukup banyak, antara lain beriman kepada Allah, mendirikan shalatm menafkahkan sebagian rizkinya kepada fakir miskin, beriman kepada al-Quran, meyakini adanya kehidupan akhirat, mwnunaikan zakat, menepati janji, sabar dalam kesempitan, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, mengajak dan mengingatkan orang lain agar bertakwa, rendah hati, berani membela kebenaran, dan sebagainya.

Sedangkan manfaat takwa antara lain Allah memberinya jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq: 2-3), ukuran kemuliaan manusia dalam pandangan Allah (Al-Hujurat: 13), menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya (Ali Imran: 15), dan masih banyak lagi.

Takwa sering diartikan ‘takut’, yakni takut akan amarah dan siksa Allah, takut tidak bisa menjadi hamba Allah yang bersyukur, takut tidak menjadi mukmin atau muslim sejati, atau takut masuk neraka.

Takwa juga dimaknai sebagai sikap hati-hati untuk tidak melanggar larangan Allah. Dalam hal ini, seorang sahabat Nabi perawi hadits, Abu Hurairah memakai ilustrasi yang cukup menarik. Saat ditanya soal takwa, Abu Hurairah balik menanyakan, “Apakah engkau pernah melewati jalanan berduri?” Si penanya menjawab, “Ya.” Abu Hurairah bertanya lagi, “Lalu apa yang kau lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya, atau aku tahan langkah.” Kata Abu Hurairah, “Seperti itulah takwa.”

Wallahu a’lam bish shawwab. (Abu Faiz)

Dikutip dari tabloid al-Hikmah. Jika tertarik berlangganan, silahkan hubungi via ym ke tahajud_call.

Iklan