Archive for the ‘ Senyum Simpul ’ Category

RASULULLAH, ALI, DAN KURMA


Suatu ketika, tatkala dijamu di rumah salah seorang sahabat, Rasulullah dan para sahabatnya disajikan sejumlah kurma. Sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah, para sahabat mempersilahkan beliau untuk mengambil sajian tersebut terlebih dahulu. Rasulullah pun mengambil sebutir kurma, lalu memakannya. Hal ini kemudian diikuti para sahabat. 

Namun anehnya, setiap kali memakan kurma, Ali bin Abi Thalib yang duduk di samping Rasulullah menggabungkan biji kurmanya dengan biji kurma beliau. Sambil tersenyum Ali berujar, “Ya Rasulullah, mengapa engkau sudah makan begitu banyak kurma sedangkan kami baru memakan beberapa butir saja? 

Mendengar ucapan Ali, para sahabat yang pada awalnya tidak terlalu memperhatikan, mengalihkan pandangan mereka ke tumpukan biji kurma Rasulullah. Mereka pun tersenyum. Lalu apa yang dilakukan Rasulullah? Dengan tenang beliau menanggapi canda Ali sambil tersenyum, “Wahai Ali, sehebat-hebatnya seorang Rasul namun mereka tidak pernah memakan kurma beserta bijinya.” 

Spontan semua sahabat mengalihkan matanya ke tumpukan biji kurma Ali yang kosong.

Iklan

Humor Sufi


Dikutip dari Republika Online, Jumat, 20 Februari 2004
Satu Sen Hilang

Ketika sedang duduk di sebuah batu besar di pinggiran sungai, Nasrudin melihat sepuluh orang buta yang ingin menyeberangi sungai. Ia menawarkan bantuan kepada mereka dengan bayaran satu sen per orang. Mereka setuju, dan sang Mullah pun memulai pekerjaannya.

Sembilan orang telah selamat sampai ke tepi sungai. Tapi ketika ia sedang dibuk dengan orang yang kesepuluh, orang yang malang itu terpeleset dan hanyut dibawa air. Merasakan ada sesuatu yang salah, kesembilan yang selamat mulai berteriak: “Apa yang terjadi Nasrudin?” “Aku kehilangan uang satu sen.”

Satu Kata Saja
Mendengar bahwa ada seorang yang ingin belajar bahasa Kurdi, Nasrudin langsung menawarkan diri sebagai gurunya. Sebenarnya, pengetahuan bahasa Kurdi yang dimiliki Nasrudin terbatas hanya beberapa kata saja.
“Kita, sebaiknya mulai saja dengan kata-kata ‘Sop Panas’,” ujar Nasrudin.
“Dalam bahasa Kurdi, ini disebut Aash.” “Bagaimana kalau kita ingin mengatakan ‘Sop Dingin’?”
“Engkau tidak akan pernah mengatakan ‘Sop Dingin’. Orang Kurdi hanya suka sop panas.”

Berita Baik

Di dunia Timur, orang-orang yang membawa berita baik, selalu diberi penghargaan. Dan ini dianggap sebagai adat-istiadat yang tak bisa dihapus.
Suatu hari Nasrudin merasa amat gembira dengan kelahiran anaknya laki-laki. Ia berada di tengah-tengah pasar sambil berteriak-teriak: “Berkumpullah kemari! Ada berita baik!” “Apa itu, Mullah?
” Nasrudin menunggu sampai semua orang hadir, kemudian berteriak: “Wahai semuanya, kumpulkanlah uang untuk sebuah berita baik, berita baik untuk setiap orang di antara kalian! Ini baru berita! Mullahmu telah memperoleh rahmat dengan dikaruniai seorang anak laki-laki.

Di Mana Aku Duduk

Dalam sebuah pertemuan para Sufi, Nasrudin duduk di deretan paling belakang. Setelah itu ia mulai melucu, dan segera saja orang-orang berkumpul mengelilinginya, mendengar dan tertawa. Tak seorang pun yang memperhatikan Sufi tua yang sedang mencari pelajaran. Ketika pembicara tak bisa lagi mendengar suaranya sendiri, ia pun berteriak:
“Kalian semua harus diam! Tak seorang pun boleh bicara sampai ia duduk di tempat pemimpin duduk.” “Aku tidak tau bagaimana caramu melihat hal itu,” kata Nasrudin, “tapi bagiku, jelas aku duduk di tempat pemimpin duduk.”

Sang Dokter

Seorang wanita datang kepada Nasrudin, yang kali ini berperan sebagai dokter. Ketika sang Mullah datang dan mencoba mengukur denyut nadi wanita ini, sang pasien, dengan malu-malu, menutupi lengannya dengan lengan bajunya.

Nasrudin mengambil sebuah sapu tangan dari dalam sakunya dan meletakkannya di atas lengan baju pasiennya.
“Ada apa, Mullah?”
“Tidakkah engkau tahu? Denyut nadi katun selalu diukur dengan tangan sutera.”

Untuk Apa Semua Itu?

Nasrudin berbaring di bawah sebuah pohon murbai pada suatu siang, di musim panas. Rupanya, ia sedang mengincar buah semangka yang tumbuh tak jauh dari tempat itu. Tapi pikirannya sejenak berpindah kepada sesuatu yang lebih tinggi.
“Bagaimana mungkin,” pikirnya, “pohon sebesar ini tapi buahnya kecil seperti itu? Sedang pohon yang menjalar dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar dan segar…”
Ketika Nasuridn asyik dengan lamunannya itu, tiba-tiba sebuah murbai jatuh dan mendarat di kepalanya yang plontos habis dicukur bersih.
“Aku tahu sekarang,” kata Nasrudin. “Ini ‘kan alasannya? Seharusnya aku memikirkan hal itu sebelumnya.”

Iklan