Archive for the ‘ Tips dan Trik ’ Category

Kiat Agar Istiqamah [Bag 1]


Keutamaan Orang yang Bisa Terus Istiqomah

Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.[1] Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali. Baca lebih lanjut

Iklan

Shalat Khusyuk itu Mudah


Ada e-book bagus tenteng Shalat Khusyuk karya Mardibros. Semoga bisa memperbaiki kualitas shalat kita. Silahkan menyebarkan e-book khusyu-itu-mudah-ver-1-1, menempatkan pada situs/blog, menyalin, mengutip, mengcopy, mencetak, membagikan, sepanjang bukan untuk diperjualbelikan. e-book ini juga bisa di download di www.shalatcenter.com

Berikut kutipan kata pengantar dari Abu Sangkan, penulis buku ” Pelatihan Shalat Khusyuk”

Sekilas saya rasakan, buku ini seolah mengajak dan menuntun untuk merasakan, bukan memikirkan!! Ketika rukuk dan sujud, terasa sekali ketenangan ruas-ruas tulang dan otot menjadi rileks. Ketika mengucapkan tasbih dengan penghayatan dan seolah memberikan pujian dihadapan Allah dengan sesungguhnya. Terasa sekali desiran hati akan sentuhan kalimat tayyibah menyusup dengan jelas. Sungguh sajian yang menarik untuk dimiliki dan dirasakan secara langsung.

Kalau masih mempunyai hobbi berdebat lalu mencari kesalahan dan mencari pembenaran atas aliran-aliran fikih dalam Islam, disarankan jangan baca buku ini. Karena saya pikir, khusyu’ itu tidak hanya dimiliki oleh satu aliran fikih saja. Akan tetapi, bisa dirasakan oleh siapa saja yang meyakini akan pertemuannya dengan Allah dikala berdiri shalat. Apapun jalan syariatnya, yang penting sesuai dengan nash yang sudah disepakati oleh jumhur ulama salaf maupun khalaf dan semuanya mengacu kepada hadist Nabi:

Shallu kama raitumuuni ushalli

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat..

Saya sangat appreciate, atas diterbitkannya buku saudara Mardibros. Karena untuk menjalankan shalat yang khusyu’, tidak harus menjadi ahli dalam bidang agama yang luas. Sebagaimana orang yang hendak menunaikan ibadah zakat , haji ataupun berpuasa. Ilmu yang diperlukan hanya sekitar hukum-hukum fikih, zakat, haji dan puasa. Disamping itu, hanya diperlukan sebuah keyakinan adanya Allah yang sangat dekat. Kalau keyakinan itu ada, tidaklah mungkin orang yang meyakini adanya Allah yang Maha Melihat, lalu shalatnya terburu-buru. Kalau dia meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui gerak-gerik hati setiap hamba-Nya, tidak mungkin shalatnya tidak serius.

Masihkah masalah shalat khusyu’ menjadi persoalan yang harus diperdebatkan dan diberikan alasan bermacam-macam. Hanya gara-gara tidak serius atas seluruh ibadahnya, lalu mengatakan shalat khusyu’ itu tidak ada bahkan mengatakan tidak mungkin.

Padahal dengan tegas, Al Qur’an mengatakan :

Qad aflahal mu’minuun, alladziina hum fii shalaatihim khasyi’uun.

Sungguh beruntung orang-orang beriman, yang di dalam shalatnya dilakukan dengan rasa khusyu’. (QS Al Mukminun [23]:1-2).

Sebaliknya Al Qur’an juga mengatakan bahwa ada shalat yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Innal munaafiqiiina yukhadi’uunallaaha wa huwa khaadi’uhum, idzaa qaamuu ilash shalaati qaamuu kusaalaa yuraauunan naasa wa la yadzkuruunallaaha illaa qaliilaa.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah juga akan membalas atas tipuannya tersebut. Mereka itu apabila melaksanakan shalat dilakukan dengan perasaan malas, dan mereka tidak serius didalam mengingat Allah kecuali hanya sedikit saja. (QS An Nisaa’ [4]:142)

Singkatnya, shalat itu ada dua jenis yang tercantum dalam Al Qur’an, yaitu shalatnya orang mukmin dan shalatnya orang-orang munafik. Tinggal kita menilai, jenis shalat yang mana yang biasa kita lakukan.

Abu Sangkan

8 Tips Menyambut Ramadhan


Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.

Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan”. Baca lebih lanjut

MENJADIKAN MUHARRAM SEBAGAI MOMENTUM PERUBAHAN


TIPS DAN TRIK

 

 

Alhamdulillah, sebentar lagi muharrram akan kita jelang. Mari jadikan awal muharram ini sebagai momentum perbaikan dan perubahan diri sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang, dengan:

  1. Mulailah dengan bertaubat atas dosa-dosa lalu.
  2. Lakukan refleksi diri. Berhenti sejenak untuk mengevaluasi apa yang telah dan akan kita lakukan.
  3. Gugah obsesi kita. Tetapkan tujuan hidup. Hidup seperti apa yang kita inginkan? Hal apa yang paling kita inginkan? Apa yang membuat kita merasa istimewa?
  4. Tata ulang langkah kita. Langkah apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan-tujuan hidup tersebut?  
  5. Ubah pola pikir. Terkadang tak semua langkah yang kita ambil terlihat mungkin untuk dikerjakan. Jadilah orang yang optimis dengan mengatakan pada diri sendiri, ”Meskipun sulit, masalah ini mungkin dikerjakan.”
  6. Hasilkan gagasan baru dan cemerlang. Galilah inspirasi dari Al Qur’an. Makin sering kita berinteraksi dengan Al Qur’an, makin banyak hal yang baru yang bisa kita dapatkan dan mekin banyak solusi permasalahan yang kita temukan.
  7. Jaga komitmen. Komitmen yang terjaga akan menjadikan diri kita lebih konsisten dan fokus dalam meraih tujuan-tujuan hidup.
  8. Raih prestasi. Lecut diri dengan kegagalan yang diraih, bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda?
  9. Bersegeralah untuk mewujudkan tujuan-tujuan hidup kita. Saat tekad masih bulat, beban kita akan menjadi jauh lebih ringan.
  10. Tetap ikhlas dan bersyukurlah atas karunia yang telah diberikan Allah.

Semoga setiap perubahan kecil yang kita torehkan, bisa bergulir menjadi perubahan besar yang dapat merubah wajah umat Islam di masa datang. Amin.

Tips Dari Kang M.Rachmat


Ada TIPS untuk memudahkan Bangun Malam….

1. “Sebelum tidur, Minum Air putih sebanyak-banyaknya”
2. “Set Alarm anda terutama HP. pada waktu yang ditentukan”
pasang ketelinga jika ada saluran ear phone nya…
3. Tidurlah ditempat yang tidak biasa kita tidur…
4. Suruh RONDA untuk mengtuk pintu atau membunyikan bel
rumah, atau klakson motor/mobil

diambil dari komen M.Rahmat, Nov 17, 10:20 PM

AGAR MUDIK AMAN, NYAMAN, DAN BERNILAI IBADAH


Tanpa terasa kita telah hampir sampai di penghujung Ramadhan. Sepuluh hari terakhir Ramadhan, saat Allah menjauhkan kita dari siksaan api neraka. Saat Allah menurunkan lailatul qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sayangnya, tak jarang di sepuluh terakhir ini kita justru terjebak dengan persiapan pulang kampung atau biasa disebut mudik sehingga mengurangi kenikmatan beribadah.

Nah, bagaimanakah caranya agar kita bisa mudik dengan aman dan nyaman tetapi tetap bernilai ibadah? Kenapa tidak mencoba sepuluh tips di bawah ini saja?

  1. Mudiklah bersama mahram. Memiliki teman seperjalanan selama mudik tentu akan lebih menyenangkan dibandingkan hanya mudik sendirian. Sahabat dapat saling menjaga satu sama lain selama dalam perjalanan.
  2. Jika Sahabat akan menggunakan jasa angkutan umum, persiapkanlah tiket jauh-jauh hari sebelum pemberangkatan. Selain untuk mencegah terbuangnya waktu untuk mencari tiket yang memang sulit dicari menjelang Idul Fitri, kita juga bisa melakukan penghematan.
  3. Jika Sahabat akan menggunakan kendaraan pribadi, yakinkan kendaraan Sahabat dalam kondisi prima saat mudik.  Periksakan kondisi kendaraan ke bengkel (tune up komplit) dan yakinkan semua perlengkapan darurat seperti dongkrak, tersedia.
  4. Yakinkan tubuh dalam kondisi prima saat berangkat. Beristirahatlah setidaknya 6 jam sebelum pemberangkatan. Yakinkan juga Sahabat telah membawa serta obat-obatan dan barang-barang pribadi seperti charger, yang diperlukan selama perjalanan.
  5. Pastikan rumah dalam keadaan terkunci sebelum berangkat. Mintalah tetangga yang tidak mudik untuk membantu mengawasi rumah Sahabat. Seperti dengan menghidupkan lampu teras saat malam dan mematikannya saat pagi. Menghidupkan lampu teras saat kita mudik justru menjadi penanda bahwa rumah tersebut kosong.
  6. Yakinkan Sahabat tidak meninggalkan barang berharga di dalam rumah. Jika tidak memungkinkan untuk dibawa, pegadaian bisa menjadi salah satu solusi.
  7. Membawa peta mudik disertai nomor penting selama perjalanan tentu dapat mempermudah perjalanan Sahabat. Biasanya peta mudik memuat jalan alternatif yang bisa Sahabat manfaatkan saat terjadi kemacetan pada jalur utama.
  8. Manfaatkan waktu sebaik mungkin selama perjalanan. Bawa serta Alqur’an, buku-buku bacaan, ataupun media player seperti MP3 player. Selain untuk menghindari jenuh, tentu agar detik-detik Ramadhan tidak terbuang percuma tatkala kita mudik.
  9. Bawalah uang tunai secukupnya dan simpanlah uang yang Sahabat bawa di beberapa tempat berbeda. Dengan cara ini, kemungkinan tetap memiliki uang jika dompet kita di copet lebih besar dibandingkan dengan menyimpannya di satu tempat saja.
  10. Telah sampai di kampung halaman dengan selamat? Sekarang, siapkan senyuman termanis dan terhangat saat sampai di pintu rumah.

Jadi, mudik dengan aman dan nyaman tetapi tetap bernilai ibadah? Bukan hal yang tidak mungkin, bukan? Selamat mencoba!

 

Berbuka dengan yang manis ? bener nih ?


Berbuka dengan yang manis ? bener nih ?

Oleh Herry Mardian

Di bulan puasa, sering kita dengar kalimat
‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya.Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutabkurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma,beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’?Tidak Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya,gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak  jelas.Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ‘sunnah Nabi’.Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makananmanis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.

Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar  merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa ‘manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalananekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa  manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli,naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat  menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin
menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka. Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya), sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah ‘ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka  puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat  maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau.  Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada diIndonesia adalah ‘manisan kurma’, bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh  dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti ‘buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah ‘sunnah’, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya ‘rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.’

. Nah, saya kira, “berbukalah dengan yang manis-manis” itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, ‘berbukalah dengan yang manis’ itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.
Semoga tidak termakan waham umum ‘berbukalah dengan yang manis’. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong. “Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah. “Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah
sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)

Semoga bermanfaat..

Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Herry Mardian, Yayasan Paramartha (juga menggemari body building)
Terima kasih kepada Abdul Saman, Dian Novi, Imam Suhadi, Muhammad
Sigit,Zaenal Muttaqin, Efi Hanafi, Rahmat Sudarsono dan Melissa Rosanti atas
segala ‘stimulus’-nya sehingga muncul artikel ini.
 

Iklan