QIYAAMUL LAIL: PENYELAMAT DARI API NERAKA


Ingatlah qiyaamul lail dan munajat kepada Allah SWT di kegelapan malam dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka. Pengetahuan tentang ini dapat menambah semangat orang untuk melakukannya.

 

Apakah Anda tahan dengan panasnya api neraka yang menyala? Apakah Anda mampu menghadapi neraka saqar, di mana manusia yang disiksa tidak dikembalikan lagi seperti semula kemudian disiksa lagi?

 

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia mengatakan, “Ketika Rasulullah SAW masih hidup, ada seorang laki-laki yang apabila bermimpi ia menceritakan mimipinya tersebut kepada Rasulullah.”

 

Lalu Ibnu Umar r.a. mengatakan, “Aku adalah seorang anak muda yang masih bujangan. Pada masa Rasulullah, aku pernah tidur di masjid dan aku bermimpi dalam tidurku. Sepertinya ada dua malakait mengambilku, kemudian berdua pergi bersamaku ke neraka. Tetapi aku berhenti dan tidak masuk ke neraka itu. Aku melihat neraka itu dibangun seperti sumur, memiliki dua tiang seperti dua tiang sumur (yaitu dua kayu seperti penyangga kerekan dan digunakan untuk menimba). Aku melihat ada orang-orang di dalamnya dan aku mengenal mereka. Kemudian aku mengucapkan, ‘Aku berlindung dari kepada Allah SWT dari neraka. Aku berlindung dari kepada Allah SWT dari neraka. Aku berlindung dari kepada Allah SWT dari neraka.’” Ibnu Umar melanjutkan ceritanya, “Kemudian seorang malaikat menemui kedua malaikat itu dan ia mengatakan kepadaku, ‘Janganlah takut.’ Aku menceritakan kisah ini kepada Hafshah dan Hafshah menceritakan kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau mengatakan, ’Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya ia selalu mengerjakan shalat malam.’”

 

Salam mengatakan, “Semenjak itu Abdullah tidak tidur malam kecuali sedikit sekali.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

 

Berkait hadist di atas, Al-Qurthubi berpendapat: “Asy Syahri” (Rasulullah SAW) menafsiri mimpi Abdullah bin Umar dengan sesuatu terpuji, karena ia telah dihadapkan neraka, tetapi kemudian dia diampuni dan dikatakan kepadanya, “Janganlah kamu takut. Itu adalah karena kebaikan Ibnu Umar, padahal ia tidak mengerjakan shalat malam. Kemudian hal itu menjadi suatu peringatan bagi Abdullah bin Umar bahwa shalat malam dapat mencegahnya masuk dan jatuh ke dalam neraka. Dan setelah itu ia tidak pernah meninggalkan shalat malam.” (Ibnu Fajar, Fath Al-Bahri III: 9).

 

Asy Syanqiti Rahimahullah mengatakan hadist di atas menjelaskan bahwa shalat malam dapat menolak siksaan api neraka. (Abi Al-Jakni Asy-Syanqiti, Zad Al-Muslim fima Ittafaqa ‘alaihi Al-Bukhari wa Muslim, III:440).

 

Saudaraku,

Berhentilah di jalan orang yang mengerjakan shalat tahajud pada malam hari. Semoga engkau terbawa bersama mereka. Lihatlah wajah dan keadaan mereka, pinggir mata mereka menjadi hitam karena tidak tidur malam. Mereka menyibukkan akalnya untuk berpikir, hatinya selalu gundah dan air mata selalu mengalir terus. Mereka terbawa oleh rasa takut sehingga merasa sangat hina. Ketika malam telah gelap mereka terlihat tidak tidur. Angin malam terasa menakutkan dan mereka terus menerus memohon ampun. Ketika fajar datang merekakembali pulang dengan membawa pahala dan datanglah seruan, “Wahai orangorang yang tidur dan telah gagal. Inilah jalan mereka dan dimanakah orang yang melewati jalan tersebut? Ini adalah sifat mereka, siapa yang mengikuti mereka? Beginilah keadaan mereka, bersungguh-sungguhlah dalam perjalanan menuju mereka. Jalan-jalan dan tingkah lakunya tidak akan menceraikanmu.”

 

Dipetik dari Bersujud di Keheningan Malam: 111

Menumbuhkan Gairah Qiyaamul lail Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq

Mitra Pustaka Jakarta Mei 2006

Iklan

MARI BERTAHAJUD!


Bila malam bentangkan gelap, ia berdiri

Ia menyesali diri karena takut tiada tara

Ia menjadi teman kesedihan pada siang hari

Bersimpuh dan bermunajat bila malam gelap

Ia berkata, “Kekasihku, Engkau harapanku

Cukuplah Engkau harapan bagi para pengharap

Bukankah Engkau yang memberiku makan dan minum

Engkau juga terus memberiku hidayah, karunia, dan nikmat

Ada rindu dalam bangunku dan ada harap dalam kantukku

Langkahku teguh dalam kemabukan cinta-Mu.”

(Syair Al-Syafii tentang sifat-sifat orang yang bertahajud)

 

Saudaraku,

Shalat malam (qiyaamullail) merupakan pertemuan agung antara manusia dengan Sang Kekasih, Allah Taala, yang sangat dirindukan oleh para pencinta Ilahi. Betapa bahagianya jiwa orang-orang yang bangun malam untuk ruku’ dan sujud. Mereka shalat dan bermunajat dengan penuh kekhusyukan dan ketundukan. Berzikir, bertasbih, membaca Al-Qur’an, bertaubat, beristighfar, berdoa, dan menangis kepada Allah. Semua in adalah bekal kehidupan mulian nan abadi. Allah SWT berfirman, “Dan pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang pada malam hari.”

 

Saudaraku,

Bangun (shalat) malam dapat menebus kesalahan, mencerahkan hati dan pikiran, serta menghilangkan berbagai penyakit jasmani dan ruhani. Sesungguhnya shalat malam dan menghapuskan dosa. Jabir r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh pada malam hari ada waktu. Jika seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah agar diperbagus urusan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut, niscaya Dia akan memberinya. Waktu tersebut ada pada setiap malam.” Allah SWT merahasiakan waktu tersebut kepada kita semata-mata agar kita memohon kepada-Nya pada seluruh waktu malam, sebagaimana Dia merahasiakan lailatul qadar kepada kita.

 

Aisyah r.a. menuturkan, “Rasulullah SAW pernah bangun malam (shalat tahajud) hingga kedua kakinya bengkak. Aku bertanya kepada beliau, ‘Mengapa engkau melakukan hal ini, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni?’ Beliau menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?’ (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

 

Saudaraku,

Rasulullah SAW melakukan shalat malam sedemikian hingga kedua kakinya bengkak walaupun beliau benar-benar yakin bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya. Itu beliau lakukan semata-mata karena ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini adalah bukti yang sangat jelas tentang kebenaran risalah Ilahi. Perilaku beliau adalah perilaku seorang insane Rabbani yang memendam cinta yang menggelora kepada Tuhannya, takut kepada-Nya, dan mengenal nikmat-nikmat-Nya yang tidak terhingga banyaknya. Tidak diragukan, beliau adalah orang yang paling banyak beribadah kepada Allah.

 

Kerinduan Rasulullah dan para sahabatnya kepada Allah sangat  besar. Cita-cita mereka untuk selalu berdekatan dengan-Nya juga sangat tinggi. Karena itu mereka tidak melalaikan ibadah-ibadah fardhu serta selalu bergairah untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Di tengah malam yang sunyi dan dingin, mereka pun terjaga untuk menghadap kepada Sang Maha Pencipta.

 

Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah tidak pernah meninggalkan bangun malam. Jika sakit atau agak malas, beliau shalat sambil duduk.” (HR. Abu Dawud).

 

Allah Azza wa Jalla menyeru Rasulullah SAW dalam firman-Nya,

 

$pkš‰r¯»tƒ ã@ÏiB¨“ßJø9$# ÇÊÈ ÉOè% Ÿ@ø‹©9$# žwÎ) Wx‹Î=s% ÇËÈ ÿ¼çmxÿóÁÏoR Írr& óÈà)R$# çm÷ZÏB ¸x‹Î=s% ÇÌÈ

 

“Hai orangorang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahanlahan.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-3).

 

Hai orang yang berselimut, bangunlah! Inilah seruan dari langit, suara Tuhan yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Bangunlah! Bangunlah untuk menyambut perkara yang besar dan beban berat yang menantimu! Bangunlah! Bersiap-siaplah untuk mengerjakan amal yang lebih utama!

 

Inilah kalimat agung yang menyebabkan Rasulullah SAW segera beranjak dari tempat tidur di dalam rumah yang tenang lalu mengarungi sebuah lautan yang berombak antara musibah dan anugerah, kesulitan dan kemudahan, serta kepahitan hidup dan kenikmatannya. Apalah artinya tidur, istirahat, kasur yang empuk, hidup yang nyaman, harta yang melimpah, jika semua itu membuat manusia lalai kepada Tuhan? Rasulullah SAW benar-benar mengetahui hakikat-hakikat dari nilai perkara-perkara itu. Oleh karena itu, beliau berkata Khadijah yang menghiburnya agar tenang dan tidur, “Wahai Khadijah, masa untuk tidur telah berlalu.”

 

Saudaraku,

Ketahuilah bahwa petunjuk yang paling utama adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, marilah kita berpegang teguh padanya. Sebab, beliau lebih mengetahui apa yang lebih baik bagi jiwa dan tidak berbicara menuru hawa nafsu. Mari kita bentangkan sajadah untuk memulai shalat malam kita dengan khusyuk! Hidupkan hati dengan banyak berdzikir kepada-Nya. Luruskan hati, sempurnakan niat, mari kita gapai cinta Ilahi dengan tahajud!

 

(Referensi: Mukjizat Shalat Malam, Mizania)

INGIN SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT? BERTAHAJUDLAH!


Setiap kita pasti ingin menjadi manusia yang sukses di dunia dan akhirat. Tapi, tahukah Anda jalan mana yang harus ditempuh menuju kesuksesan itu? Bagi Anda yang ingin segera meraih kesuksesan tersebut, tak ada salahnya melakukan satu resep sederhana ini: TAHAJUD.

 

Inilah beberapa keutamaan tahajud yang bisa membantu Anda meraih kesuksesan itu:

  1. Menjauhkan diri dari kelalaian hati.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa mengerjakan shalat pada malam hari dengan membaca seratus ayat, maka ia tidak akan dicatat sebagai orang lalai. Dan apabila membaca dua ratus ayat, maka sungguh ia akan dicatat sebagai orang yang selalu taat dan ikhlas.” (Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak).

  1. Dibanggakan Allah di hadapan para malaikat.

Al-Hasan Al-Bashry Rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba tidur lalu bangun untuk bersujud, Allah akan menghiasi mereka dengan malaikat. Dia berfirman: ‘Lihatlahpada  hamba-Ku ini, ia beribadah kepada-Ku, merasa senang di sisi-Ku dan dia melakukan sujud.’” (Imam Ahmad, Az-Zuhud).

  1. Hati menjadi lapang dan bahagia.

Atha Al-Khurasani Rahimahullah mengatakan, “Apabila seseorang melakukan qiyaamullail, maka pada waktu paginya akan merasa bahagia. Apabila tidak mengerjakannya, maka di waktu paginya akan menyesal dan hatinya gelisah.” (Al-Maqrizi, Mukhtasar Qiyaam Al-Lail).

  1. Menyebabkan kemenangan dalam jihad melawan musuh.

Ketika pasukan Romawi kalah melawan umat Islam, Hieraclius bertanya kepada para pasukannya, “Menurut kalian, apa yang menyebabkan kalian kalah?” Seorang tua dari pembesar Romawi menjawab, “Karena mereka mengerjakan shalat pada malam hari dna puasa pada siang hari.” (Ibnu Al-Qoyyim bin Asakir, tarikh Dimasyq, 1:143).

  1. Menyebabkan masuk surga.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orangorang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyaat 15-18).

 

  1. Meringankan lamanya berdiri pada hari kiamat.

Ibnu Abbas ra berkata, ”Barangsiapa yang senang bila lamanya berdiri di hari kiamat diringankan oleh Allah, maka hendaklah ia memperlihatkan dirinya kepada Allah di malam hari dengan sujud dan berdiri mengingat hari akhir.” (Ibnu Jarir Ath-Thabari, tafsir Ibnu Jarir, XXIII:20).

  1. Menghapus kejahatan dan mencegah perbuatan dosa.

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili ra, ia mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Hendaklah kalian mengerjakan qiyaamullail, sesungguhnya ia adlah kebiasaan orangorang saleh sebelum kalian, mendekati diri kepada Allah Ta’ala, mencegah perbuatan dosa, menghapus kejahatan dan menangkal penyakit dari badan.’” (Diriwayatkan At-Turmudzi, Al-Hakim)

  1. Menyebabkan doa terkabul.

Diriwayatkan dari Amru bin Abasah ra, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Paling dekatnya Tuhan kepada hamba-Nya adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Bila engkau mampu menjadi orang yang berdzikir (mengingat) kepada Allah pada waktu itu, lakukanlah.” (Diriwayatkan oleh At-Turmudzi).

  1. Mendatangkan kecintaan Allah.

Diriwayatkan dari Abibarda ra, ia mengatakan Rasulullah bersabda: “Ada 3 macam manusia, Allah mencintai mereka, tersenyum kepada mereka dan merasa senang dengan mereka, yaitu salah satunya adalah orang yang memiliki istri cantik serta tempat tidur lembut dan bagus. Kemudian ia bangun malam (untuk shalat), lalu Allah berkata: ‘Ia meninggalkan kesenangannya dan mengingat Aku. Seandainya ia berkehendak, maka ia akan tidur.” (Riwayat Ath-Thabrani).

  1. Menyebabkan muka berkilau dan bercahaya.

Ada orang yang bertanya kepada Hasan Al-Basri ra: “Mengapa orang-orang yang bertahajud di waktu malam memiliki muka yang bagus?” Ia menjawab: “Karena mereka menyendiri bersama Tuhannya pada malam hari, kemudian Allah memberikan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya.” (Al-Maqrizi, Mukhtasar Qiyaam-Allail).

  1. Menangkal penyakit fisik.

Abu Utsman Al-Khurasan Rahimahullah mengatakan “Qiyaamullail merupakan kehidupan bagi tubuh, cahaya bagi hati, sinar pada penglihatan, dan kekuatan pada anggota tubuh.” (Al-Maqrizi, Mukhtasar Qiyaam-Allail).

 

Selain kesebelas poin di atas, shalat tahajud juga dapat membersihkan jiwa, mendidik jiwa selalu bergantung kepada Allah, menyebabkan kita mendapatkan taufik, pertolongan, dan rahmat-Nya, menjadi penolong di hari kiamat, meringankan beban dan kesulitan besar, serta sejuta keutamaan lainnya.

 

Sumber:

Bersujud di Keheningan Malam karya Muhammad Salih Ali Abdillah Ishaq

SHALAT KHUSYUK


Shalat khusyuk bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, meski pelaksanaannya tidak semudah yang diucapkan. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha sekuat tenaga memperbaiki kualitas shalat sehingga kita bisa meraih karunia Allah. Berikut beberapa persiapan sebelum shalat yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan shalat khusyuk:

  1. Persiapan fisik.

Siapkan fisik sebaik mungkin. Misalnya, tidak dalam keadaan lapar dan mengantuk. Lapar dapat mengganggu konsentrasi seseorang ketika shalat. Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Malik, Abu Daud, dan Tirmidzi menegaskan bahwa orang yang shalat dalam keadaan mengantuk tentu tidak menyadari apa yang dibacanya. Upayakan pula agar tidak dalam menahan kentut, kencing, ataupun buang air besar, sebagaimana dikatakan Aisyah ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada shalat (khusyuk) ketika makanan terhidang dan tidak ada shalat khusyuk ketika terganggu oleh dua orang yang kotor (maksudnya menahan sesuatu yang akan keluar dari dua pembuangan tersebut).’”

  1. Persiapan akal dan qolbu.

Pelajari dan pahami bacaan-bacaan shalat dengan mentadaburinya (meresapi ke dalam hati sehingga melahirkan konsentrasi serta pemahaman yang dalam). Kekhusyukan sulit terjadi jika kita tidak memahami arti dari bacaan-bacan tersebut.

  1. Persiapan tempat.

Siapkan tempat shalat yang bersih dari kotoran-kotoran, najis, dan gambar-gambar. Upayakan pula agar tempat shalat tidak panas dan berisik sebab hal-hal seperti ini akan mempengaruhi konsentrasi kita ketika shalat. Suasana yang ramai masih bisa diatasi apabila kita melakukan shalat dengan penuh konsentasi (memusatkan perhatian semaksimal mungkin kepada bacaan shalat sehingga pengulangan bacaan tidak perlu terjadi). Selain itu, upayakan agar tidak tergesa-gesa dalam membaca bacaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Adalah Beliau (Rasulullah SAW) biasa membaca ayat-ayatNya sepenggal-sepenggal: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim (berhenti), Al-hamdu lillaahi Rabbil ‘Aalamiin (berhenti), Ar-rahmaanir-rahiim (berhenti), Maaliki yaumid-diin (berhenti), dan seterusnya.” (H.R. Daru Quthni).